Khutbah Jumat (Edisi 210) Tema : “3 CARA RAIH SYAFA’AT DI BULAN MAULID NABI SAW”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 210) Tema :
“3 CARA RAIH SYAFA’AT DI BULAN MAULID NABI SAW”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ ATTAQWA Ujungharapan Bahagia Kab.
Bekasi Jumat, 21 Agustus2026 M/08 R. Awal 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Bersyukur kepada Allah swt sampai hari ini usia kita
masih dipertemukan dengan bulan mulia, bulan dilahirkan sang pembawa cahaya dan
rahmat, bulan orang yang paling mulia, bulan sang pemberi syafaat yaitu baginda
Rasululloh saw. Semua orang beriman sangat butuh syafaat, terutama pada hari
akhir nanti, hari yang sangat dahsyat, tidak terdapat bangunan, pepohonan untuk
bernaung, tidak ada pula pakaian yang menutupi badan dan pada saat itu manusia
saling berdesakan, mereka menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu
dihilangkan selain minta bantuan kepada Allah melalui syafaat.
Di bulan agung ini kita telah dipertemukan Allah agar
bisa meraih syafaat, jika ingin mendapatkan syafaat, lakukanlah tiga hal ini :
Pertama, Dekatkan Allah.
Syafa’at itu hanya terjadi jika ada izin Allah dan syafa’at
hanyalah milik Allah swt
قُلْ لِّلّٰهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًاۗ لَهٗ مُلْكُ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ٤٤
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Hanya milik Allahlah
Syafa’at (pertolongan) itu semuanya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi.
Kemudian, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Az-Zumar : 44).
Pada ayat kursi, sering kita baca setiap selesai sholat
lima waktu,
مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa
izin-Nya?” (QS. Al-Baqoroh
: 255).
وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ
شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ
يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى ٢٦
“Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat
(pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah
mengizinkan(-nya untuk diberikan) kepada siapa yang Dia kehendaki dan ridai.” (QS. An-Najm : 26).
Karena syafaat itu hanya milik Allah, maka carilah untuk
mendapatkannya dengan cara :
(1). Mentauhidkan Allah swt dan tidak menyekutukanNya dengan
ikhlas dari hatinya dan jiwanya mengucapkan kalimat tauhid setiap saat.
قِيلَ يا رَسولَ اللَّهِ مَن أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتِكَ
يَومَ القِيَامَةِ؟ قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لقَدْ
ظَنَنْتُ يا أبَا هُرَيْرَةَ أنْ لا يَسْأَلُنِي عن هذا الحَديثِ أحَدٌ أوَّلُ
مِنْكَ لِما رَأَيْتُ مِن حِرْصِكَ علَى الحَديثِ أسْعَدُ النَّاسِ بشَفَاعَتي
يَومَ القِيَامَةِ، مَن قالَ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِن قَلْبِهِ، أوْ
نَفْسِهِ
“Terdapat satu pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah
saw. “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan
syafaatmu pada hari kiamat?”. Rasulullah saw menjawab, “Aku telah menduga wahai
Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah
ini. Karena aku melihat engkau sangat tertarik terhadap hadis. Orang yang
paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang
mengucapkan “laa ilaaha illallah” dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.”
(HR. Bukhari).
Dari Abu Said Al Khudri ra, bahwa Rasulullah saw
bersabda,
قَالَ مُوْسَى يَا رَبِّ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ
وَأَدْعُوْكَ بِهِ، قَالَ : قُلْ يَا مُوْسَى : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ :
يَا رَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هَذَا، قَالَ مُوْسَى : لَوْ أَنَّ
السَّمَوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ – غَيْرِي – وَالأَرْضِيْنَ السَّبْعَ فِي
كِفَّةٍ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فِي كِفَّـةٍ، مَالَتْ بِهِـنَّ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ
“Musa berkata: ‘Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu
untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, “Ucapkan hai Musa لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.” Musa berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu.”
Allah berfirman, “Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh
penghuninya–selain Aku–dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan
kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ diletakkan
dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ lebih berat timbangannya.” (HR. Ibnu Hibban).
Syaikh Sulaiman At-Tamimi rahimahullah berkata, “Siapa
saja yang mengucapkan kalimat لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dengan penuh ikhlas dan yakin, serta ia mengamalkan konsekuensi
dari kalimat tersebut, juga ia istiqamah di dalamnya, dialah yang termasuk
orang-orang yang tidak memiliki rasa takut dan rasa sedih (terhadap apa yang
ditinggalkan di dunia dan dihadapi nanti di akhirat, -pen).” (Taisir Al-‘Aziz
Al-Hamid, 1:240).
(2). Banyak Berdzikir KepadaNya.
Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa agama ini dibangun di atas dua
landasan yaitu dzikir dan syukur. Lalu beliau rahimahullah menyebutkan firman
Allah,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا
تَكْفُرُونِ
“Berdzikirlah pada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian.
Bersyukurlah pada-ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqoroh : 152).
Begitu juga Nabi saw berpesan pada Mu’adz, “Demi Allah,
aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk
mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam),
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar selalu
berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad,
shahih).
Orang-orang yang senantiasa berdzikir sudah dijamiminkan
Allah dalam firmanNya,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ
اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab : 35).
Termasuk dzikir yang selalu dibaca pagi dan petang, dari
Abu Ayyub Al-Anshari ra, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang shalat
shubuh lalu ia mengucapkan “لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ” sebanyak 10 kali maka ia seperti membebaskan 4 budak, dicatat
baginya 10 kebaikan, dihapuskan baginya 10 kejelekan, lalu diangkat 10 derajat
untuknya, dan ia pun akan terlindungi dari gangguan setan hingga waktu petang
(masaa’). Jika ia menyebut dzikir yang sama setelah Maghrib, maka ia akan
mendapatkan keutamaan semisal itu.” (HR. Ahmad).
(3). Lakukan yang Allah Wajibkan. Hadits qudsi disebutkan
dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghozali
قالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :(يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَا
تَقَرَّبَ إِلَيَّ الْمُتَقَرِّبُونَ بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ
عَلَيْهِمْ، وَلَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى
أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَلِسَانَهُ الَّذِي يَنْطِقُ بِهِ، وَيَدَهُ
الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا).
Nabi saw. bersabda, "Allah Swt. berfirman, 'Tidaklah
orang-orang mendekatkan diri pada-Ku dengan melaksanakan apa yang Kuwajibkan
pada mereka, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri padaKu dengan
amal-amal sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka
Aku menjadi telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang
berbicara, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan." (kitab
Bidayatul Hidayah).
Kedua, Dekat dengan Al-Quran.
(1). Jadilah Ahlul Quran.
Ahlul Quran adalah orang yang rajin membaca, menghafal,
mentadaburi, dan mengamalkan isi Al-Qur'an. Al-Qur'an akan datang pada hari
Kiamat sebagai pembela dan pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa
menjaganya semasa di dunia. Menjadi ahlul quran adalah kemuliaan besar karena
dianggap orang terkhusus yang dekat dengan Sang Pencipta.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ
فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Umamah ra, ia berkata bahwa ia mendengar
Rasulullah saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan
datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim).
Dari Anas bin Malik ra, Nabi saw bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ
وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi ‘ahli’
Allah”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapakah mereka?’ Beliau saw
menjawab, “Mereka adalah ahli al-Qur’an, (merekalah) ahlullah (orang-orang yang
dekat dan dicintai) Allah dan diistimewakan di sisi-Nya.” (HR. Ahmad).
Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah saw bersabda,
ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ،
ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ،
ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ
ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ
“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at
bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah
menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi
syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu
malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun
diizinkan memberi syafa’at.” (HR. Ahmad).
(2). Sesuatu yang Berkaitan Al-Quran Jadi Mulia.
Seseorang yang selalu membersamai al-quran tidak akan
pernah rugi bahkan diangkat menjadi mulia segalanya.
عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قالَ: يَجِيءُ
القُرْآنُ يَوْمَ القِيامَةِ فَيَقُولُ: يا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تاجَ
الكَرامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرامَةِ،
ثُمَّ يَقُولُ: يا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضى عَنْهُ، فَيُقالُ لَهُ: اقْرَأْ
وارْقَ، ويُزادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً.
Diriwayatkan dari Abi Hurairah, dari Nabi saw bersabda : “Kelak
di hari kiamat Al-Qur’an akan datang, seraya memohon kepada Tuhan : Ya Allah,
pakaikanlah kemuliaan kepadanya (pembaca Al-Qur’an). Kemudian Allah memakaikan
mahkota kemuliaan untuk pembaca Al-Qur’an. Lalu Al-Quran memohon Kembali : Ya
Allah, tambahkanlah (kemuliaan). Kemudian diberikanlah pakaian kemuliaan.
Selanjutnya Al-Qur’an memohon lagi : Ya Allah, ridhailah dia (pembaca
Al-Qur’an). Kemudian Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada pembaca
Al-Quran : bacalah (Al-Qur’an seperti ketika di dunia) dan naiklah. Sebab
setiap satu ayat akan dilipatkan satu kebaikan.” (HR. Turmudzi).
Kemuliaan itu akan terus bertambah, seperti kemuliaan
yang berkaitan dengan al-quran. Diantaranya :
(1). Malaikat Jibril menempati kedudukan yang paling
mulia, dikenal sebagai pemimpin para malaikat dan diberi gelar Ruhul Amin
(ruh yang dipercaya). Allah swt berfirman,
وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ ١٩٢
“Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan
semesta alam.” (QS. Asy-Syu'ara' : 192).
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ ١٩٣
“Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril).” (QS. Asy-Syu'ara' : 193).
Kemuliaan malaikat Jibril karena bertugas sebagai
perantara turunya al-quran dari Allah kepada RasulNya.
(2). Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul yang paling
mulia dan menjadi pemimpin para nabi, sehingga beliau digelari Sayyidul
Anbiya wal Mursalin. Karena beliau adalah nabi yang menerima mukjizat
terbesar dan terakhir, yaitu al-Qur’an. Melalui al-Qur’an, Allah mengangkat
derajat Nabi Muhammad saw, memuliakan nama beliau, dan menyebarkan risalahnya
untuk seluruh umat manusia.
(3). Tempat diturunkan al-quran yaitu kota Makkah menjadi
kota yang paling mulia dimuka bumi karena menjadi saksi tempat pertama kali
Allah turunkan al-quran dan Allah langsung bersumpah atas kemulian kota ini,
firmanNya,
لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ ١
“Aku bersumpah demi negeri ini (Makkah),” (QS. Al-Balad : 1).
وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ ٢
“sedangkan engkau (Nabi Muhammad) bertempat tinggal di
negeri (Makkah) ini.” (QS. Al-Balad : 2).
Kota Makkah bukan hanya mulia karena tempat lahir
kelahiran Nabi Muhammad saw tapi menjadi pusat ibadah dan kiblat umat islam
sekaligus tempat menyempurnakan rukun islam kelima.
(4). Bulan mulia, yaitu bulan Ramadhan menjadi bulan
paling mulia karena tercatat sebagai bulan diturunkan al-quran sehingga
dijuluki Sayyidus Syuhur (pemimpin seluruh bulan), Syahrul Qur’an
(bulan Al-Qur’an), dan Syahrul Maghfirah (bulan ampunan). Semua julukan
ini menegaskan bahwa kemuliaan Ramadhan ada kaitan erat dengan Al-Qur’an.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ
هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya
diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah : 185).
(5). Malam paling mulia yaitu lailatul qodar,
malam peristiwa turunnya al-quran untuk pertama kali dari Lauhul Mahfuzh
ke langit dunia dan peristiwa ini Allah abadikan dalam suroh al-qodr. FirmanNya
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ
اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ
شَهْرٍۗ ٣
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada
Lailatulqadar (1). Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? (2). Lailatulqadar
itu lebih baik daripada seribu bulan (3).” (QS. Al-qodr 1-3).
(6). Umat islam sebagai umat terbaik karena Allah
anugerahkan al-quran sebagai pedoman hidupnya. Firman Allah,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali 'Imran : 110).
Siapapun yang selalu berhubungan dengan al-quran akan
menjadi umat yang terbaik, baik membacanya, mempelajari atau mengajarkannya
serta mengamalkannya. Rasulullah saw bersabda :
“خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ”
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an
dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Ketiga, Banyak Sholawat pada Rasulullah saw.
Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad saw adalah
salah satu sebab utama untuk mendapatkan syafaat beliau di hari Kiamat. Rasululullah
saw itu satu-satunya diantara nabi dan rasul yang ketika yaumul hisab
itu sujud minta sama Allah saw .
فَيَقُولُ يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ
لَكَ وَسَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي
فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ
شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَنْطَلِقُ فَأَفْعَلُ
lantas
Allah berfirman 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan
didengar, mintalah engkau akan diberi, mintalah syafaat (keringanan) engkau
akan diberi syafaat (keringanan).' Maka aku menghiba 'Wahai tuhanku,
umatku-umatku.' Allah menjawab, 'Berangkat dan keluarkanlah dari neraka siapa
saja yang dalam hatinya masih terdapat sebiji gandum keimanan.' Maka aku
mendatangi mereka hingga aku pun memberinya syafaat.” (HR. Bukhari).
Maka jika ingin syafaat Nabi saw, dekati Nabi saw, cara
mendekatinya dengan mengiikuti semua petunjuknya. Allah berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran : 31).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanuan







