Khutbah Jumat (Edisi 201) Tema : “HALAL Bi HALAL DAPAT MENGURAI HATI YANG KUSUT”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 201) Tema :
“HALAL Bi HALAL DAPAT MENGURAI HATI YANG KUSUT”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ AL-UKHUWAH Villa Gading Baru Kebalen
Babelan Bekasi. Jumat, 10 April 2026 M/21 Syawal 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Meskipun
bulan syawal sudah berada dipenghujung namun susana hari raya idul fitri masih
terasa menyelimuti masyarakat Indonesia, disana sini saling sapa dan saling
memberikan ucapan تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا
وَمِنْك (Semoga Allah menerima amal kami
dan amal kalian) bahkan banyak didapati dengan kemasan berbagai acara
Halal bi Halal sebagai tema rutin tahunan pasca Ramadhan. Ini adalah salah satu
kecerdasan ulama-ulama Indonesia mampu mengangkat tema Halal bi Halal di bulan
syawal yang memiliki makna yang sangat mahal dan berarti, betapa penting
seorang manusia itu harus mempunyai hubungan baik dan harmonis antara Allah (حبل من الله) vertikal dan sesama manusia (حبل من الناس) horizontal sebagai cerminan
insan bertaqwa. Karena jika dua hubungan ini tidak kita miliki, maka akan
tergolong orang-orang yang hina. Allah berfirman,
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا
بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ
"Mereka
diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia". (QS. Ali Imron : 112).
Manusia sebagai
makhluk sosial, banyak berinteraksi dengan orang lain, sudah pasti banyak sikap
yang kurang berkenan, lisan pernah menyakiti orang lain dan hati pernah dengki
bahkan menzholimi, sebab itulah kita urai benang yang kusut dengan melakukan halal
bi halal. Memang tidak dijumpai dalam al-quran dan hadits Nabi saw secara
spesifik kata halal bi halal, namun berprilaku halal, bekerja halal, makan yang
halal, bersosial yang halal itu sangat dianjurkan dalam al-quran dan sunah Nabi
saw. Diantaranya :
Pertama,
Berhalal itu Perintah Allah.
Ayat Pertama,
Allah swt berfirman
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا
طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُّبِيْنٌ
“Wahai
manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang
nyata bagimu." (QS. Al-Baqoroh :
168).
Kata HALAL
dalam Bahasa arab diambil dari akar kata الحل (al-Hillu) yaitu sesuatu yang sudah terurai
yang tidak memiliki persoalah seperti benang kusut yang sudah terurai dan tidak
kusust lagi, orang arab sering berucap حل
المشكلة (Hillul Musykilah) yaitu
keadaan yang lurus yang sudah tidak ada persoalan lagi, lalu dikembalikan
kepada masdarnya menjadi halal sehingga agama mengambil istilah ini
disebut halal.
Al-quran
menampilkan kata halal dalam ayatNya itu sebagai petunjuk bagi orang beriman
yang seringkali dalam kehidupan seseorang menjumpai banyak masalah, dibelenggu
problematika tak ubahnya seperti benang kusut yang sulit terurai dan mau tidak
mau kita sebagai orang yang beriman harus mampu menyelesaikannya dan indahnya
al-quran dengan kata halal memberikan ruang persoalan itu agar mudah kita
mengatasinya.
Indahnya
lagi al-quran menggunakan khitob (yang dituju) kata halal
diawali dengan panggilan يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ “Wahai manusia” كُلُوْا
مِمَّا فِى الْاَرْضِ “Makanlah dari
(makanan) yang terdapat di bumi” artinya, silahkan bertebaran di muka
bumi beraktifitas, berkreasi dan bekerja minimal untuk memenuhi kebutuhan pokok
diri sendiri dan orang lain untuk mencari makan maka lakukan dengan cara yang
halal, yang legal dan hasil yang didapat pun dari proses yang halal dengan cara
yang baik pula.
Kata النَّاسُ dalam al-quran
disebutkan sebanyak 241 kali, saking istimewanya kata النَّاسُ sehingga Allah
beri nama suroh النَّاسُ dalam al-quran dan kata النَّاسُ menunjukan manusia yang bersifat sosial, dimana
sepanjang berkehidupan pasti tidak bisa hidup sendiri dan butuh orang lain
untuk berinteraksi, bekerjasama, bersinergi untuk memakmurkan tempat dimana ia
berpijak. Kata النَّاسُ juga bermakna universal seluruh manusia tanpa dibatasi
aqidahnya, agamanya, budayanya dan lain sebagainya.
Indahnya
beragama islam saat Allah swt seru kata يٰٓاَيُّهَا
النَّاسُ “Wahai manusia” siapa
saja bisa berkolaborasi secara profesional seperti Nabi saw saat membangun kota
Madinah, Nabi berinteraksi dengan orang Yahudi, Nasroni, Majusi bahkan Nabi saw
sampai mengajarkan untuk berbagi sesama tetangga. Dari Abu Dzar, ia
berkata, “Kekasihku, Rasulullah saw mewasiatkan kepadaku,
ياَ أَباَ ذَرٍّ إِذَا طَبِخْتَ مِرْقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَ
الْمِرْقَةِ، وَتُعَاهِدُ جِيْرَانَكَ، أَوِ اقْسِمْ فِي جِيْرَانِكَ
“Wahai Abu
Dzar, apabila engkau membuat suatu masakan, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian
undanglah tetanggamu atau engkau dapat membaginya kepada mereka.” (HR. Muslim).
Senada
dengan ayat ini Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ
وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ
اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai
manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui,
Mahateliti”. (QS. Al-Hujurat : 13).
Untuk
mewujudkan keharmonisan yang baik, manusia itu butuh bekerjasama dengan orang
lain, baik laki-laki, wanita, bersuku, berbangsa maupun bernegara karena itu
undang-undang al-quran ini adalah untuk membangun keharmonisan, dan kesuksesan.
Jika ditemui ketidakharmonisan, maka timbulah kata Halalan.
حَلٰلًا طَيِّبًا “Halal dan Baik” ini adalah kalimat yang mahal dan tinggi nilainya
karena jika pekerjaan kita belum halal maka akan timbul kegelisahan,
ketidaktenangan seperti banyak orang kaya tapi tetap saja gelisah namun banyak
orang miskin yang tenang hidupnya karena ketenangan itu mahal, ibadah pun yang
kita cari adalah ketenangnan sampai panggilan terindah saat kita kembali
menghadap Allah pun dalam keadaan tenang.
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ
اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ
جَنَّتِيْ
“Wahai jiwa
yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam
surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30).
Ingin
tenang, ingin harmonis dan ingin selamat dunia akhirat, maka berkerjalah dengan
pekerjaan yang halal dan baik karena itu semua akan menghasilkan ketaqwaan,
orang yang taqwa adalah orang yang paling mulia.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa”. (QS. Al-Hujurat : 13).
Ayat Kedua,
Allah swt berfirman, doa Nabi Musa as waktu menghadap Firaun membaca doa ini.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ
عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya
Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku aurusanku, dan
lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS.
Thaha : 25-28).
Kata وَاحْلُلْ asal kata halal, artinya lepaskanlah
ikatan dari lisanku, orang yang berbicaranya tidak lancar seakan-akan
dilidahnya ada tali yang mengikatnya.
Halal itu
berarti ‘lepas ikatan, membuka simpul yang terikat, mengurai yang kusut,
menyambung yang putus, mencairkan yang beku atau sering disebut ‘plong’, jika
barangkali selama ini hubungan tetangga, sabahat, saudara semacam terikat maka
setelah halal bi halal ini menjadi plong.
Sehingga diharapkan
halal bi halal ini dapat menghubungkan yang selama ini beku, berbicaranya susah,
lidah yang terikat menjadi cair, hubungan yang terputus tersambung kembali, yang
selama ini pecah terekat kembali, gala patah bisa disambung, kaca retak bisa
direkat, hati yang sakit kemana obat akan dicari, makanya berhalal bi halallah agar lepas dan terhapus
segalanya kesalahan yang mengganjal hati.
Halal bi
halal itu, hubungan kita sudah baik dengan Allah swt selama bulan suci Ramadhan,
siang berpuasa diampuni dosanya, malam qiyam Ramadhan menghapus dosa. Jika berdosa
kepada Allah saw bisa selesai dengan sholat sunat taubat dan melakukan amal
sholeh. Firman Allah swt,
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا
فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ
غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ٧٠
“Kecuali,
orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti
kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 70).
Namun dosa manusia dengan manusia belum usai kecua mesti minta maaf. Halal bi halal inilah saatnya memafkan kesalahan antar sesama manusia.
Kedua,
Berhalal itu Perintah Rasulullah saw.
Jika
diantara sesama manusia pernah melakukan kezholiman, kesalahan dan pernah
menyaitinya, sebelum ajal menjemput bersegralah minta dihalalkan dari dosa.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ
فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا, فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ
قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ
حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa
yang berbuat zalim pada saudaranya, maka hendaknya dia meminta kehalalan
padanya, karena kelak di akhirat tiada lagi dinar maupun dirham sebelum
kebaikannya diambil untuk saudaranya (yang dia zalimi). Bila tidak memiliki
kebaikan maka kejelekan saudaranya (yang dia zalimi) akan diberikan padanya.” (HR. Bukhari).
Bahkan jika
sampai kematian datang sementara kita belum saling berhalal, bisa jadi kita
tergolong orang yang bangkrut di akhirat kelak karena dosa diantara manusia
belum terselesaikan. Rasulullah saw bersabda,
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا
مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي
مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ
شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ
هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ
حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ
فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Apakah
kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab,
”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun
harta benda.”
Tetapi Nabi
saw berkata, “Muflis (orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang
pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di
dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta,
menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan
diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya,
maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan
ke dalam neraka” (HR. Muslim).
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Mari dengan
halal bi halal ini kita komitmen dengan semua aktifitas kita tuntaskan,
kita selesaikan dan kita siapkan untuk masa depan yang lebih baik
demi mendapatkan hasil yang didambakan. Jika masih ada yang belum tuntas
hubngan kita dengan Allah swt dan manusia sehingga menjadi sebab membuat rahmat
Allah belum hadir sepenuhnya, doa-doa yang kita harapakan belum terjawab. Bisa
jadi hubngan sosial antara manusia tidak harmonis disebabkan urusan hubungan
kita dengan Allah yang belum terselesaikan. Mari kita Halal bi halalkan
sehingga saat kita Kembali berjumpa dengan Allah swt bersih tanpa dosa dan noda
baik dengan Allah dan dengan manusia sehingga menjadikan kita orang yang
bertaqwa.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.
فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Uanuan



.jpeg)









