Khutbah Jumat (Edisi 207) Tema : “HATI-HATI DENGAN DO’A JELEK IBUMU”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 207) Tema :
“HATI-HATI DENGAN DO’A JELEK IBUMU”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ AL-FALAH Pondok Ungu Permai Babelan Kab.
Bekasi Jumat, 17 Juli 2026 M/02 Shofar 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Dalam islam doa seorang ibu untuk anaknya sangatlah
mustajab, sungguh sangat ajaib, karena itu mintalah selalu ridho dan doa
terbaik dari ibu agar hidup dimudahkan dan diberkahi dan perlu hati-hati selaku
orang tua ketika mendoakan anaknya dengan doa yang baik-baik karena mustajab
doa orang tua itu mencakup doa baik dan buruk. Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ
دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu
doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang
tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).
Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada
seorang ibu bahkan Rasulullah saw menyebutnya sebagai sosok yang paling berhak
mendapatkan perlakuan baik dari seorang anak, doa seorang ibu tidak diragukan
lagi kemakbulannya. Dalam al-quran dijelaskan bahwa ibu memiliki peran besar
dalam kehidupan anak-anaknya, dari mulai mengandung, melahirkan, dan mendidik
dengan penuh kasih sayang. Allah swt berfirman,
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ
وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى
وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat
baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu." (QS. Luqman: 14).
Bahkan doa seorang ibu sering disamakan dengan doa Nabi
untuk umatnya, baik untuk keselamatan, kesuksesan dan keberkahan bagi
anak-anaknya. Dalam riawayat lemah disebutkan, dari Anas ra,
دُعَاءُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ كَدُعَاءِ النَّبِيِّ
لِأُمَّتِهِ
“Doa orang kepada anaknya seperti Nabi kepada umatnya.” (HR.
Ad-Dailamy).
Bukti doa orang tua itu ampuh dan makbul :
Pertama, Kisah Imam Al-Bukhori.
Imam Abu Abdillah, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari
dinilai sebagai Amirul Mukminin dalam hadits, tidak ada seorang ulama pun yang
menentang pendapat ini.
Lalu apa nikmat Allah swt sejak Imam Bukhori masih kecil..?
Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh
as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan,
”Sejak kecil Imam al-Bukhari kehilangan penglihatan pada
kedua matanya alias buta. Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi
Allah, al-Khalil, Ibrahim as yang berkata kepadanya, ‘Wahai wanita, Allah telah
mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.”
Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar,
Allah telah mengembalikan penglihatannya.
(Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradh karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy).
Kedua, Kisah Juraij.
Doa jelek (buruk) orang tua pada anaknya termasuk doa
yang mustajab tertuang dalam kisah Juraij yang menunjukkan bahwa doa jelek
ibunya pada Juraij terkabul dan kisah ini dibawakan oleh Al Bukhari dalam Al
Adabul Mufrod. Dari Abu Hurairah berkata, ”Rasulullah saw bersabda,
مَا تَكَلَّمَ مَوْلُوْدٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَهْدٍ إِلاَّ
عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَسَلَّمَ] وَصَاحِبُ جُرِيْجٍ”
قِيْلَ: يَا نَبِيَّ اللهِ! وَمَا صَاحِبُ جُرَيْجٍ؟ قَالَ: “فَإِنَّ جُرَيْجًا
كَانَ رَجُلاً رَاهِباً فِي صَوْمَعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِيُ بَقَرٍ يَأْوِي
إِلَى أَسْفَلِ صَوْمَعَتِهِ، وَكَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةِ
تَخْتَلِفُ إِلَى الرَّاعِي، فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًٍا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ!
وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟
فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي
نَفْسِهِ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَتْ
بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ.
فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ
تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ. ثُمَّ انْصَرَفَتْ فَأُتِيَ الْمَلِكُ
بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ وَلَدَتْ[1]. فَقَالَ: مِمَّنْ؟ قَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ.
قَالَ: أَصَاحِبُ الصَّوْمَعَةِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: اِهْدَمُوا صَوْمَعَتَهُ
وَأْتُوْنِي بِهِ، فَضَرَبُوْا صَوْمَعَتَهُ بِالْفُئُوْسِ، حَتىَّ وَقَعَتْ.
فَجَعَلُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَبْلٍ؛ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ
عَلَى الْمُوْمِسَاتِ، فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَنْظُرْنَ إِلَيْهِ فِي
النَّاسِ. فَقَالَ الْمَلِكُ: مَا تَزْعُمُ هَذِهِ؟ قَالَ: مَا تَزْعُمُ؟ قَالَ:
تَزْعُمُ أَنَّ وَلَدَهَا مِنْكَ. قَالَ: أَنْتِ تَزْعَمِيْنَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ.
قَالَ: أَيْنَ هَذَا الصَّغِيْرُ؟ قَالُوْا: هَذَا فِي حُجْرِهَا، فَأَقْبَلَ
عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَنْ أَبُوْكَ؟ قَالَ: رَاعِي الْبَقَرِ. قَالَ الْمَلِكُ:
أَنَجْعَلُ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: مِنْ فِضَّةٍ؟ قَالَ:
لاَ. قَالَ: فَمَا نَجْعَلُهَا؟ قَالَ: رَدُّوْهَا كَمَا كَانَتْ. قَالَ: فَمَا
الَّذِي تَبَسَّمْتَ؟ قَالَ: أَمْراً عَرَفْتُهُ، أَدْرَكَتْنِى دَعْوَةُ أُمِّي،
ثُمَّ أَخْبَرَهُمْ
“Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali
Isa bin Maryam dan Juraij” Lalu ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah
Juraij?”. Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri
pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat
seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat
peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu
(untuk berbuat mesum dengannya).
(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggilnya
ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya
dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan
shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang
kedua kalinya. Juraij kembali bertanya
di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya.
Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku
atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak
menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai
Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur?” (doa jelek
ibunya). Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya. (sholat yang dilakukan Juraij
bukan sholat wajib).
Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap
raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak (anak hasil zina). Raja itu
bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak
ini)?” “Dari Juraij?”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia
yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja
berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu
menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan
tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah
perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij
tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara
manusia.
Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?”.
Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita
tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya,
“Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu
bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan
(ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?”
Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”
Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun
kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas.” Juraij menjawab, “Tidak perlu”.
“Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa
kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah
seperti semula.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij
menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu
terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal
itu kepada mereka.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 33).
Oleh karena itu bagi setiap orang tua, hendaklah berdoa
yang baik-baik, berdoalah seperti doanya para Nabi dan orang-orang sholeh yang
selalu mendoakan kebaikan pada anak keturunananya seperti doa Nabi Ibrahim as.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang
yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim : 40).
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang
aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah
berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35).
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat: 100).
Doa Nabi Zakaria as ,
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ
سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Tuhanku, anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu seorang
anak yang shalih. Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan doa” (QS. Ali-‘Imran: 38).
Doa ‘ibadurrahman (hamba Allah) yang berdoa,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami,
anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74).
Nabi pun melarang untuk mendoakan keburukan bagi anak.
Beliau bersabda,
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى
أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ
سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ
“Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian,
dan juga untuk anak-anak kalian, atau harta kalian. Jangan sampai kalian
menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa Ta’ala diminta
sesuatu lantas Dia kabulkan doa kalian tersebut.” (HR. Muslim).
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Marilah kita muliakan kedua orang tua, beruntunglah bagi
yang masih punya kedua orang tua, doa mustajab masih bisa dipinta, manfaatkan
dan berbaktilah sebaik-baiknya mumpung masih berada di dunia ini, satu saja
mereka meninggalkan dunia maka seperti memiliki sebelah mata,
الْوَالِدَانِ مِثْلُ الْعَيْنَيْنِ، أَحَدُهُمَا
الْيُمْنَى وَالْأُخْرَى الْيُسْرَى، إِذَا فَقَدْتَ أَحَدَهُمَا ضَعُفَ نَظَرُكَ،
وَإِذَا فَقَدْتَ الِاثْنَيْنِ أَصْبَحْتَ أَعْمَى، فَحَافِظْ عَلَيْهِمَا.
"Kedua orang tua itu seperti sepasang mata, yang
satu mata kanan dan yang lainnya mata kiri. Jika kamu kehilangan salah satunya,
penglihatanmu akan melemah, dan jika kamu kehilangan keduanya, kamu akan
menjadi buta, maka jagalah keduanya."
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.
فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanuan










.jpeg)