Khutbah Jumat (Edisi 202) Tema : “7 AMAL JARIYAH (PAHALANYA MENGALIR)”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 202) Tema :
“7 AMAL JARIYAH (PAHALANYA MENGALIR)”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ AL-ITTIHAD Penggilingan Tengah, Kebalen
Babelan Bekasi. Jumat, 17 April 2026 M/28 Syawal 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Allah swt
ciptakan hidup dan mati, selama kita hidup di dunia ini adalah tempat
mempersiapkan amal sholeh untuk kehidupan akhirat. Selezat apapun dunia ini
hanya sesaat, kesenangan sebentar, akan sirna, hilang dan semua ditinggalkan.
Sebuah atsar menyebutkan,
الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَكُلُّ مَا خُلِقَ فِي
الدُّنْيَا فَيُمْكِنُ أَنْ يُتَزَوَّدَ مِنْهُ لِلْآخِرَةِ
“Dunia
adalah ladang akhirat. Maka setiap yang diciptakan Allah di dunia, bisa untuk
dijadikan bekal menuju akhirat.”
Banyak
orang memburu dunia, pergi gelap, pulang gelap, waktunya 24 jam seakan tidak
cukup untuk mengejar dunia, lupa dengan akhirat, seharusnya dunia akhirat tidak
boleh dipisahkan karena keduanya merupakan hidup yang berkelanjutan.
Kita lupa,
setelah kita tinggalkan dunia ini, kita akan hidup di alam akhirat dan tidak
akan bisa kembali lagi ke dunia, akhirat adalah negeri pembalasan yang kekal
abadi dan kehidupan yang hakiki, di mana tidak ada lagi ujian melainkan balasan
atas perbuatan di dunia. Akhirat adalah tujuan akhir yang sesungguhnya,
kenikmatan didalamnya tidak terbatas dan tidak pernah berhenti, akhirat itu
jauh lebih baik daripada kehidupan dunia.
وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧
“Kehidupan
akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A'la
: 17).
فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا
أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ
فِيهَا كَالِحُونَ
“Barang
siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka
itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka
Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam
keadaan cacat.” (QS. al-Mukminun : 102-104).
Carilah
amal sholeh yang pahalanya terus mengalir meski jasad sudah berada di alam
kubur dan ciri-ciri orang yang mati dalam keadaan husnul khotimah adalah saat
ia tinggalkan dunia ini masih memiliki pahala yang terus mengalir untuknya.
Disebutkan dalam kitab At-Targhib wat Tarhib karya Al-Mundziri, terdapat
tujuh amal jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir walaupun ia sudah wafat.
عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ : سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ
وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا
أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَّثَ
مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
Dari Anas ra,
Rasulullah saw bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir
bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya
(yaitu) : (1). Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu, (2). Mengalirkan sungai,
(3). Menggali sumur, (4). Menanamkan kurma, (5). Membangun masjid, (6).
mewariskan mushaf atau (7). Meninggalkan anak yang memohonkan ampun untuknya
setelah dia meninggal.” (HR. Al-Bazzar, Abu Nu’aim, dan Al-Baihaqi).
Pertama, مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا (Orang yang Mengajarkan
Ilmu).
Orang yang
mengajarkan ilmu atau menjadi seorang guru, baik guru dalam ilmu agama maupun
ilmu dunia memiliki keutamaan begitu besar. Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas, dari
bapaknya ra, Nabi saw bersabda,
مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ
يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ
“Siapa yang
mengajarkan ilmu, maka baginya pahala dari orang yang mengamalkan ilmu yang ia
ajarkan, tidak mengurangi pahala yang mengamalkan sedikit pun juga.” (HR. Ibnu Majah).
Dari Abu
Hurairah, Rasulullah sawbersabda,
مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ
مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ
“Barangsiapa
menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya,
maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan
sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya,
barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang
sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim).
Allah swt akan memudahkan baginya jalan ke surga
pada hari kiamat ketika melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai
ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Rasulullah saw bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ
اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ
أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ
مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ
الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ
دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Barangsiapa
yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga.
Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu
karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang
mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit
maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang
‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.
Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan
barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian
yang paling banyak.” (HR. Ahmad, Abu Dawud), at-Tirmidzi, Ibnu Majah
dan Ibnu Hibban).
Kedua, مَنْ أَجْرَى نَهْرًا (Orang yang
Mengalirkan Sungai).
Siapa saja
yang mampu mengalirkan air berjalan lancar, baik untuk minum, mandi, cuci,
pengairan sawah-sawah ataupun parit-parit, solokan dan got-got kecil perumahan
yang sering macet, tersumbat aliran airnnya sehingga dapat mengalir dengan
baik, itu termasuk berpahala besar dan pahalanya akan terus mengalir sebanyak
mengalirnya air yang diperbaikinya. Jangan pernah malas untuk berbuat kebaikan
seperti ini, banyak yang diselamatkan dengan sebab lancarnya pengairan sungai.
Ketiga, مَنْ حَفَرَ بِئْرًا (Orang yang Menggali Sumur).
Meraih
pahala yang terus mengalir tidak perlu biaya dan energi mahal, cukup menggali
sumur dan airnya di wakafkan atau dihadiahkan untuk orang-orang yang
membutuhkan, itu pahalanya sangat besar, termasuk bisa mewakafkan mesin pompa
air atau membiaya penggalian sumur, jangankan untuk kebutuhan manusia, binatang
sekalipun tetap berpahala. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda :
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ
الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ
يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا
الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي فَنَزَلَ الْبِئْرَ
فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ
نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
“Suatu
ketika ada seorang lelaki yang menahan dahaga yang teramat berat berjalan di
jalan, lalu dia menemukan sumur. Dia turun ke sumur itu lalu meminum kemudian
keluar. Sekonyong-konyong dia mendapati seekor anjing terengah menjulurkan
lidahnya menjilat tanah karena saking hausnya. (Melihat pemandangan ini,)
lelaki itu mengatakan, ‘Anjing ini telah dahaga yang sama dengan yang aku
rasakan.’ Lalu dia turun ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air lalu
diminumkan ke anjing tersebut. Maka (dengan perbuatannya itu) Allah swt
bersyukur untuknya dan memberikan maghfirah (ampunan)-Nya. Para shahabat bertanya, “Apakah kita bisa
mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang ?” Rasulullah saw menjawab,
“Ya, pada setiap nyawa itu ada pahala.” (HR.
Bukhori Muslim).
Keempat, مَنْ غَرَسَ نَخْلاً (Orang yang Menanamkan Kurma).
Menanam
pohon merupakan amal jariyah, pahala yang terus mengalir selama pohon itu
bermanfaat, bahkan setelah penanamnya wafat, hasilnya yang dimakan manusia,
burung, hewan ternak atau dicuri orang dihitung sebagai sedekah, pahalanya
terus mengalir sampai hari kiamat, nilai pahala seukuran buah yang dihasilkan
oleh pohon tersebut, karena pohon itu memberi manfaat, dapat membersihkan
udara, menyerap karbondioksida, memberi keteduhan atau mengeluarkan oksigen
yang dibutuhkan untuk manusia. Rasulullah saw bersabda,
لاَ يَغْرِسُ مُسْلِمٌ
غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَادَابَّةٌ وَلَا
شَيْءٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tiada
seorang Muslim yang menanam pohon atau tumbuhan lalu dimakan oleh seseorang,
hewan ternak, atau apapun itu, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi
penanamnya.” (HR Muslim).
Dalam
riwayat lain, Nabi bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ
يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ طَيرٌ أَوْ إِنْسَانٌ
إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Tiada
seorang Muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu dimakan oleh
burung atau manusia, melainkan ia akan bernilai sedekah bagi penanamnya.” (HR Bukhari).
Kelima, مَنْ بَنَى مَسْجِدًا (Orang yang Membangun Masjid).
Membangun
masjid adalah investasi pahala yang sangat besar, walau hanya menyumbang satu
batu bata semua tercatat rapih disisi Allah swt dan berpahala yang terus
mengalir, apa saja sesuai dengan kemapuan kita untuk membangun rumah Allah ini
pasti berpaha bahkan dibangunkan rumah di surga. Dari Jabir bin ‘Abdillah ra,
Rasulullah saw bersabda,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ
أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang
membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur
atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di
surga.” (HR. Ibnu Majah).
Utsman bin
Affan membawakan sabda Nabi saw,
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى
الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
“Siapa yang
membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di
surga.” (HR. Bukhari Muslim).
Semakin
besar amal jariyah yang dikeluarkan untuk pembangunan masjid maka semakin besar
pula yang didapatkan balasannya di akhirat kelak, sekecil itu yang kita mampu
untuk pembangunan masjid maka sekecil itu pula balasan yang Allah berikan,
karena itu, curahkan apa yang kita mampu, jika mampu materi berilah yang
terbaik, jika tidak mampu materi, berilah dengan tenaga, jika pun tenaga tidak
bisa, bantulah dengan doa agar Allah kirim para donatur atau muhsinin yang
dapat membantunya. Allah swt berfirman,
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barangsiapa
yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya” (QS. Al Zalzalah : 7).
Pembangunan
masjid yang dilakukan secara kolektif (iuran bersama), siapa pun yang
berkontribusi atas berdirinya bangunan masjid, ia akan mendapatkan keutamaan
dibangunkan rumah di surga. Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur
menerangkan :
لَوِاشْتَرَكَ جَمَاعَةٌ فِي بِنَاءِ مَسْجِدٍ بُنِيَ
لِكُلٍّ مِنْهُمْ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ كَمَا لَوْ أَعْتَقَ جَمَاعَةٌ عَبْداً
فَإِنَّ كلُاًّ يَعْتِقُ مِنَ النَّارِ.
“Jika ada
sekelompok orang berserikat dalam membangun masjid, maka kelak masing-masing
dari mereka mendapatkan istana di surga sebagaimana sebuah komunitas bekerja
sama memerdekakan hamba, maka masing-masing terbebas dari neraka”
Jangankan
sampai mampu membangun masjid, si tukang pembersih masjid saja Nabi saw sangat
sanjung pekerjaan itu. Rasulullah saw pernah menanyakan kepada para sahabatnya
tentang seorang wanita atau seorang pemuda yang biasa membersihkan masjid.
أنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ المَسْجِدَ، أَوْ
شَابًّا، فَفَقَدَهَا رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، فَسَأَلَ
عَنْهَا، أَوْ عنْه، فَقالوا: مَاتَ، قالَ: أَفلا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي قالَ:
فَكَأنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا، أَوْ أَمْرَهُ، فَقالَ: دُلُّونِي علَى
قَبْرِهِ فَدَلُّوهُ، فَصَلَّى عَلَيْهَا، ثُمَّ قالَ: إنَّ هذِه القُبُورَ
مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً علَى أَهْلِهَا، وإنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا
لهمْ بصَلَاتي عليهم.
"Sesungguhnya
ada seorang wanita berkulit hitam, ia menghidupkan masjid, atau seorang pemuda.
Nabi saw tidak melihatnya, maka beliau bertanya kepada para sahabat. Para
sahabat menginformasikan bahwa ia telah wafat. Nabi bersabda: Kenapa kalian
tidak memberitahuku. Tampaknya para sahabat menganggap kecil atau menyepelekan
pekerjaan perempuan atau pemuda itu. Maka Nabi bersabda : Tunjukkanlah kepadaku
di mana kuburannya. Maka para sahabat menunjukinya, maka Nabi pun
menyolatkannya di kuburan itu. Nabi bersabda : Sesungguhnya kuburan ini tempat
yang penuh kegelapan, dan sesungguhnya Allah saw akan menerangi kuburan itu
dengan shalat/doaku untuk mereka". (HR.
Muslim).
Istimewanya
masjid sehingga siapapun yang berkaitan dengan masjid sekalipun ia tukang gelar
tikar masjid mendapatkan do’a dari Malaikat, sabda Rasul saw,
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ بَسَطَ
حَصِيرا في المَسْجِدِ لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ
ذالك الحَصِيرُ في المَسْجِدِ}.
Nabi saw.
bersabda, “Siapa yang membentangkan tikar di dalam masjid, maka malaikat
akan selalu memintakan ampunan untuknya selama tikar itu di dalam masjid.”
(HR. Imam As-Suyuthi dalam Kita Lubabul Hadits).
Keenam, مَنْ وَرَّثَ مُصْحَفًا (Orang yang Mewariskan Mushaf al-quran).
Mewariskan
atau mewakafkan mushaf Al-Qur'an termasuk amal jariyah yang pahalanya terus
mengalir meskipun orang itu telah meninggal dunia, selama mushaf Al-Qur'an tersebut
masih dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain, pahala akan terus mengalir
kepada pewarisnya, pahala yang didapat dari setiap huruf yang dibaca oleh orang
yang menggunakan mushaf tersebut, satu huruf bernilai 10 kebaikan. Mewariskan
mushaf, bisa dilakukan di tempat-tempat yang membutuhkan seperti masjid atau
rumah tahfidz dan itu bentuk "perdagangan yang tidak pernah merugi".
Allah swt berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا
الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ
تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ ٢٩
“Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan
menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang
tidak akan pernah.” (QS. Fathir : 29).
Ketujuh, مَنْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
(Orang yang Meninggalkan anak yang memohonkan ampun untuknya setelah dia
meninggal).
Mengirim
istighfar (permohonan ampun) dari anak yang sholeh merupakan amalan yang sangat
bermanfaat dan sampai kepada orang tua yang telah meninggal dunia, bahkan dapat
mengangkat derajat mereka di surga meskipun amal sang anak tidak seberapa besar.
Ini adalah bagian dari bakti setelah orang tuanya tiada. Doa anak sholeh adalah
amalan yang tidak terputus bagi mayit. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
(yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).
Bahkan cara
berbakti pada orang tua meski mereka telah meninggal dunia diajarkan baginda
Rasul saw karena berbakti itu tidak mesti orang tua masih hidup saja terlebih
saat mereka sudah berada di alam kubur, yang dinanti mereka itu doa dan
sedekah. Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,
بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ
بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ «
نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا
مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا
وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».
“Suatu saat
kami pernah berada di sisi Rasulullah saw, ketika itu ada datang seseorang dari
Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk
berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti
pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk
keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan
silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah
terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu
Majah).
Setidaknya
tiap hari kirimi fateha dan doa untuk orang tua yang sudah meninggal dunia,
diantara doanya :
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا
رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Ya
Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka
sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil.”
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya Allah,
Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang
mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ
عَنْهُ
“Ya Allah,
ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah kedua orang tuaku.”
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ.
وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.
فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanuan

.jpeg)











