Khutbah Jumat (Edisi 209) Tema : “SIBUK CARI KESALAHAN ORANG LAIN, LUPA AIB SENDIRI”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 209) Tema :
“SIBUK CARI KESALAHAN ORANG LAIN, LUPA AIB SENDIRI”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ NURUL HUDA Bulak Perwira Kota Bekasi
Jumat, 14 Agustus2026 M/01 R. Awal 1447 H.
ู
َุนَุงุดِุฑَ ุงْูู
ُุณِْูู
َِْูู ุฑَุญِู
َُูู
ُ ุงููู
Diawal bulan
mulia, bulan kelahiran orang yang paling benar, paling jujur, manusia terbaik
dan tidak pernah menyakiti orang lain yaitu baginda Rasulullah saw mari kita ikuti
sunahnya, diantar sifat mulia Nabi saw itu tidak pernah sibuk cari kesalahan
orang lain. Hidup itu hanya sesaat tak ada yang abadi, tak perlu dipertahankan
mati-matian sehingga terkadang menyakiti orang lain karena semua itu akan
ditinggalkan, yang harus kita perjuangkan itu adalah semua amaliah kita di
dunia bernilai di mata Allah bukan bernilai di mata manusia.
Dalam kitab
Bidayatul Hidayah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali bahwa taqwa memiliki
dua sisi,
ุงุนَْูู
ْ ุฃَّู ِููุฏِِّْูู ุดَุทْุฑَِْูู، ุฃุญَุฏَُูู
َุง: ุชَุฑُْู
ุงูู
ََูุงِูู، ูุงูุขุฎَุฑُ: ِูุนُْู ุงูุทَุงุนَุงุชِ.. ูุชَุฑُْู ุงูู
ََูุงِูู َُูู ุงูุฃَุดَุฏُّ؛
َูุฅَِّู ุงูุทَّุงุนَุงุชِ َْููุฏِุฑُ ุนَََْูููุง ُُّูู َูุงุญِุฏِِ، ูุชَุฑُْู ุงูุดَََّููุงุชِ ูุงَ
َْููุฏِุฑُ ุนََِْููู ุฅِูุงَّ ุงูุตِّุฏَُِّْْูููู
“Ketahuilah
bahwa agama memiliki dua unsur penting : yang pertama adalah meninggalkan
segala bentuk larangan, dan yang kedua adalah menjalankan ketaatan. Dan
meninggalkan larangan adalah yang paling berat. Sebab, menjalankan perintah
mampu dilakukan oleh siapa saja, tetapi meninggalkan syahwat hanya bisa
dilakukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari ridha Allah.”
Diantara
larangan agama Allah swt adalah sibuk mencari aib (kekurangan) orang lain, tapi
lupa dengan aib sendiri dan salah satu kebiasaan buruk manusia yang tidak ada
habisnya adalah gemar mencari kesalahan orang lain, tidak ada yang membayarnya
mereka rela, rela memata-matai tiap kesalahan orang lain sehingga banyak energi
yang dihabiskan untuk itu, dan ini adalah penyakit hati yang sangat berbahaya,
bisa merusak amal baik seseorang tanpa disadari, orang yang terjangkit penyakit
ini mudah menilai, cepat berkomentar, melempar tuduhan, menyebarluaskan aib
orang dan sibuk menelanjangi kesalahan orang lain padahal dirinya sendiri tak
luput dari kekurangan bahkan tidak jarang dijadikan bahan lelucon bulian.
Sebuah pepatah bekata, “Semut di seberang lautan kelihatam, gajah di pelupuk
mata tak tampak.”
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
ُูุจْุตِุฑُ ุฃَุญَุฏُُูู
ْ ุงَููุฐَุงุฉَ ِูู ุฃَุนُِْูู ุฃَุฎِِْูู،
ََْูููุณَู ุงูุฌَุฐََู- ุฃَِู ุงูุฌَุฐَุนَ – ِูู ุนَِْูู َْููุณِِู
“Salah
seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia
lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”
(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
Di media
sosial pun fenomena ini begitu nyata, banyak yang menghabiskan waktu untuk
mengomentari keburukan orang lain, dari cara berpakaian, gaya bicara, lifestyle
hingga urusan rumah tangga, semua dikomentari, sampai-sampai Allah swt memberikan
perumpamaan orang yang bersikap seperti itu laksana manusia yang memakan daging
saudaranya yang sudah mati. Jangankan memakan, membayangkan saja sudah
menjijikkan dan ini larangan keras dari Allah swt dalam firmanNya,
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ุงุฌْุชَِูุจُูุง َูุซِูุฑًุง ู
َِู
ุงูุธَِّّู ุฅَِّู ุจَุนْุถَ ุงูุธَِّّู ุฅِุซْู
ٌ ۖ ََููุง ุชَุฌَุณَّุณُูุง ََููุง َูุบْุชَุจْ
ุจَุนْุถُُูู
ْ ุจَุนْุถًุง ۚ ุฃَُูุญِุจُّ ุฃَุญَุฏُُูู
ْ ุฃَْู َูุฃَُْูู َูุญْู
َ ุฃَุฎِِูู ู
َْูุชًุง
ََููุฑِْูุชُู
ُُูู ۚ َูุงุชَُّููุง ุงََّููู ۚ ุฅَِّู ุงََّููู ุชََّูุงุจٌ ุฑَุญِูู
ٌ
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena
sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al
Hujurat : 12).
Senada
dengan ayat diatas Rasulullah saw pun melarang umatnya mencari-cari dan
mengumbar aib orang lain. Beliau bersabda,
ุฅَِّูุง ُูู
ْ َูุงูุธََّّู َูุฅَِّู ุงูุธََّّู ุฃَْูุฐَุจُ
ุงْูุญَุฏِْูุซِ َููุงَ ุชَุญَุณَّุณُูุง َููุงَ ุชَุฌَุณَّุณُูุง َููุงَ ุชَุญَุงุณَุฏُูุง
َููุงَุชَุฏَุงุจَุฑُูุง َููุงَุชَุจَุงุบَุถُูุง َُُْูููููุงุนِุจَุงุฏَุงَِّููู ุฅุญَْูุงًูุง
“Berhati-hatilah
kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah
sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang
lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling
membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari Muslim).
Akibat buruk
mencari kejelekan orang lain, dari Ibnu ‘Abbas ra, Nabi saw bersabda,
َูู
َِู ุงุณْุชَู
َุนَ ุฅَِูู ุญَุฏِูุซِ َْููู
ٍ َُููู
ْ َُูู
َูุงุฑَُِููู ุฃَْู َِููุฑَُّูู ู
ُِْูู ، ุตُุจَّ ِูู ุฃُุฐُِِูู ุงูุขُُูู َْููู
َ
ุงَِْูููุงู
َุฉِ
“Barangsiapa
menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan
selain mereka), maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari
kiamat.” (HR. Bukhari).
ู
َุนَุงุดِุฑَ ุงْูู
ُุณِْูู
َِْูู ุฑَุญِู
َُูู
ُ ุงููู
Padahal,
energi sebesar itu bisa digunakan untuk memperbaiki diri, menambah ilmu, atau
memperbanyak amal kebaikan, karena hobi ghibah (menggunjing) itu tidak hanya
mencemari hati, tetapi juga bisa membuat seseorang bangkrut di akhirat, dalam
sebuah hadis disebutkan bahwa orang yang rajin beribadah tetapi suka menyakiti
orang lain dengan lisannya, amalnya akan dipindahkan kepada orang yang ia zhalimi.
Jika amalnya habis, dosa orang yang ia zhalimi justru akan ditimpakan
kepadanya.Betapa rugi seseorang yang tampak rajin berbuat baik, namun tak
menjaga lisannya. Ia menumpuk pahala dengan sholat dan sedekah, tapi di sisi
lain menghapusnya sendiri lewat komentar dan gunjingan. Nabi saw pernah
menceritakan kondisi orang muflis (bangkrut).
ุฃَุชَุฏْุฑَُูู ู
َِู ุงْูู
ُِْููุณُ َูุงُููุง ุงْูู
ُِْููุณُ َِูููุง
ู
َْู َูุง ุฏِุฑَْูู
َ َُูู ََููุง ู
َุชَุงุนَ ََููุงَู ุฅَِّู ุงْูู
ُِْููุณَ ู
ِْู ุฃُู
َّุชِู
ู
َْู َูุฃْุชِู َْููู
َ ุงَِْูููุงู
َุฉِ ุจِุตََูุงุฉٍ َูุตَِูุงู
ٍ َูุฒََูุงุฉٍ ََููุฃْุชِู َูุฏْ
ุดَุชَู
َ َูุฐَุง ََููุฐََู َูุฐَุง َูุฃَََูู ู
َุงَู َูุฐَุง َูุณَََูู ุฏَู
َ َูุฐَุง َูุถَุฑَุจَ
َูุฐَุง َُููุนْุทَู َูุฐَุง ู
ِْู ุญَุณََูุงุชِِู ََููุฐَุง ู
ِْู ุญَุณََูุงุชِِู َูุฅِْู ََِูููุชْ
ุญَุณََูุงุชُُู َูุจَْู ุฃَْู ُْููุถَู ู
َุง ุนََِْููู ุฃُุฎِุฐَ ู
ِْู ุฎَุทَุงَูุงُูู
ْ
َูุทُุฑِุญَุชْ ุนََِْููู ุซُู
َّ ุทُุฑِุญَ ِูู ุงَّููุงุฑِ
“Tahukah
kalian siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?”
Para
sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai
uang maupun harta benda.”
Kemdian
Nabi saw menjelaskan,
“Muflis
(orang yang bangkrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat
membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah
mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan
memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari
kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa
mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam
neraka” (HR. Muslim Ahmad).
Dari Anas
ra, Rasulullah saw bersabda,
َูู
َّุง ุนُุฑِุฌَ ุจِู ู
َุฑَุฑْุชُ ุจَِْููู
ٍ َُููู
ْ ุฃَุธَْูุงุฑٌ ู
ِْู
ُูุญَุงุณٍ َูุฎْู
ُุดَُูู ُูุฌَُُูููู
ْ َูุตُุฏُูุฑَُูู
ْ، َُْูููุชُ: ู
َْู َูุคَُูุงุกِ َูุง
ุฌِุจْุฑُِูู؟ َูุงَู: َูุคَُูุงุกِ ุงَّูุฐَِูู َูุฃَُُْูููู ُูุญُูู
َ ุงَّููุงุณِ َََูููุนَُูู
ِูู ุฃَุนْุฑَุงุถِِูู
ْ.
“Tatkala
aku dimikrajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga
yang mereka gunakan untuk mencakar wajah dan dada sendiri. Aku pun bertanya:
‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang
memakan daging manusia (melakukan ghibah) dan menodai kehormatan mereka.’” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
ู
َุนَุงุดِุฑَ ุงْูู
ُุณِْูู
َِْูู ุฑَุญِู
َُูู
ُ ุงููู
Jika sifat
tercela ini berada didiri seseorang maka segeralah cari jalan keluar dengan
cara :
(1).
Introspeksi diri (muhasabah). Allah memerintahkan kita untuk muhasabah diri,
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّูุฐَِูู ุขَู
َُููุง ุงุชَُّููุง ุงََّููู
َْููุชَْูุธُุฑْ َْููุณٌ ู
َุง َูุฏَّู
َุชْ ِูุบَุฏٍ َูุงุชَُّููุง ุงََّููู ุฅَِّู ุงََّููู
ุฎَุจِูุฑٌ ุจِู
َุง ุชَุนْู
ََُููู (18)
“Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18).
(2).
Berfikir positif, membiasakan berhusnuzhon, jangankan kepada sesama manusia terhadap
makanan saja kita diperintahkan untuk husnuzhon seperti sabda Nabi saw,
ุนَْู ุนَุงุฆِุดَุฉَ – ุฑุถู ุงููู ุนููุง – ุฃََّู َْููู
ًุง َูุงُููุง
َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ، ุฅَِّู َْููู
ًุง َูุฃْุชََُูููุง ุจِุงَّููุญْู
ِ ูุงَ َูุฏْุฑِู
ุฃَุฐََูุฑُูุง ุงุณْู
َ ุงَِّููู ุนََِْููู ุฃَู
ْ ูุงَ ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู ุตูู ุงููู
ุนููู ูุณูู
ุณَู
ُّูุง ุงََّููู ุนََِْููู َُُُููููู
Dari
‘Aisyah ra, ada suatu kaum yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum
membawa daging kepada kami dan kami tidak tahu apakah daging tersebut saat
disembelih dibacakan bismillah ataukah tidak.” Rasulullah saw lantas menjawab,
“Ucapkanlah bismillah lalu makanlah.” (HR. Bukhari).
(3). Fokus
perbaiki diri.
Fokuslah
memperbaiki diri, bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Allah sudah ajarkan
melalui Nabi Adam dan Hawa saat mereka melakukan kesalahan lalu mereka
menyadari itu kesalahan diri sendiri. Firman Allah swt.
ุฑَุจََّูุง ุธََูู
َْูุงٓ ุฃَُููุณََูุง َูุฅِู َّูู
ْ ุชَุบِْูุฑْ ََููุง
َูุชَุฑْุญَู
َْูุง ََََُّูููููู ู
َِู ูฑْูุฎَٰุณِุฑَِูู
“Ya Tuhan
kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni
kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang
yang merugi”. (QS. Al-A'raf : 23).
Nabi Adam AS
berbahagia karena lima hal : (1) mengakui dosa, (2) menyesali dosa, (3)
menyalahkan dirinya sendiri, (4) bersegera bertaubat dan (5) tidak putus asa
dari rahmat Allah. Sementara Iblis sengsara karena lima hal : (1) tidak
mengakui dosa, (2) tidak menyesali dosa, (3) tidak mencela diri sendiri, (4)
tidak bertaubat dari dosa dan (5) putus asa dari rahmat Allah.
Orang yang
sibuk menilai orang lain tak akan sempat menata hatinya sendiri. Orang yang
beruntung adalah orang yang mengenali dengan baik kekurangan dirinya lantas
sibuk memperbaiki diri. Orang yang paling banyak kesalahannya adalah orang yang
paling banyak memikirkan, mencari, mengamati dan membicarakan
kekurangan-kekurangan orang lain, setelah itu dia lupa serta pura-pura tidak
tahu dengan kekurangan diri sendiri. Justru perbanyaklah membantu menutupi aib
orang lain pasti Allah akan membantu menutupi kesalahannya. Nabi saw bersabda,
ู
ْู ََّููุณَ ุนَْู ู
ُุณِْูู
ٍ ُูุฑْุจَุฉً ู
ِْู ُูุฑَุจِ ุงูุฏَُّْููุง
ََّููุณَ ุงَُّููู ุนَُْูู ُูุฑْุจَุฉً ู
ِْู ُูุฑَุจِ َْููู
ِ ุงَِْูููุงู
َุฉِ َูู
َْู َูุณَّุฑَ
ุนََูู ู
ُุนْุณِุฑٍ ِูู ุงูุฏَُّْููุง َูุณَّุฑَ ุงَُّููู ุนََِْููู ِูู ุงูุฏَُّْููุง
َูุงْูุขุฎِุฑَุฉِ َูู
َْู ุณَุชَุฑَ ุนََูู ู
ُุณِْูู
ٍ ِูู ุงูุฏَُّْููุง ุณَุชَุฑَ ุงَُّููู
ุนََِْููู ِูู ุงูุฏَُّْููุง َูุงْูุขุฎِุฑَุฉِ َูุงَُّููู ِูู ุนَِْูู ุงْูุนَุจْุฏِ ู
َุง َูุงَู
ุงْูุนَุจْุฏُ ِูู ุนَِْูู ุฃَุฎِِูู
“Barangsiapa
yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan
duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di
akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami
kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di
dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu
di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya
Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
ุจَุงุฑََู ุงُููู ِูู ََُูููู ْ ِูู ุงُْููุฑْุขِู ุงْูุนَุธِْูู ِ. َََูููุนَِูู َูุงِِّูุงُูู ْ ุจู ุง ููู ู َِู ุงูุขَูุงุชِ َูุงูุฐِّْูุฑِ ุงْูุญَِْููู ِ. َูุชََูุจَّْู ู ِِّْูู َูู ُِْููู ْ ุชِูุงَูุชَُู ุงُِّูู َُูู ุงูุณَّู ِْูุนُ ุงْูุนَِْููู ُ. َูุงุณْุชَุบِْูุฑُْูุง ุงَُِّูู َُููุงْูุบَُْููุฑُ ุงูุฑَّุญِْูู
uanuan










