Khutbah Jumat (Edisi 193) Tema : “Hukum Baca Yasin Malam Nisfu Sya’ban”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 193) Tema :
“Hukum Baca Yasin Malam Nisfu Sya’ban”
Oleh : Nur Anwar
Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMI’ ARROHMAH Kp. Irian Kota Bekasi
Jumat, 30 Januari 2026 M/11 Sya’ban1447 H.
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Bersyukur doa kita sampai saat ini Allah diijabah masih
dipertemukan dengan bulan barokah dan sudah berada dipertengahan Sya’ban,
jangan pernah lelah terus angkat kedua tangan tuk berdoa agar kita semua sampai
merasakan beribadah di bulan suci Ramadhan.
Rugi besar jika sudah berada di bulan mulia ini tanpa
disirami dengan amal-amal sholeh, bulan agung ini berlalu meninggalkan kita
begitu saja. Apa saja keutamaan bulan Sya’ban ini. Diantaranya :
Pertama, Bulan Penuh dengan Kebaikan.
Dari akar kata Sya’ban yaitu شَعَبَ
يَشْعَبُ شَعْبًا artinya
tersebar, terpencar karena di bulan Sya’ban masyarakat arab tempo dulu itu
hidup secara berkelompok-kelompok menyebar kemana-kemana, mereka mencari
perbekalan terutama air karena mereka saat bulan Rajab itu bulan haram mereka
berdiam dirumah saja, selesai bulan haram lalu masuk bulan Sya’ban mereka pada
keluar untuk mencari air persiapan untuk bulan Ramdahan karena musim panas. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan:
وَسُمِّيَ
شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ
أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ
وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ
“Dinamakan Sya’ban karena mereka
berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab
Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan
disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.” (Fathul-Bari (IV/213),
Bab Shaumi Sya’ban).
Pelajarannya bagi kita umat islam, bulan Sya’ban
adalan bulan menyebarkan ama-amal kebaikan dengan memperbanyak puasa sunah,
baca al-quran, sedekah dll untuk latihan sebelum masuk Ramadhan karena Allah
perintahkan puasa Ramdhan itu pada tanggal 10 Sya’ban, sebagai bulan persiapan
menyambut bulan suci Ramadhan, makanya Nabi saw berdoa minta keberkahan agar
Allah sampaikan bertemu dengan bulan Ramadhan.
Menurut Al-Imam ‘Abdurraḥman As-Shafury dalam
kitablnya Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafa’is, ada 5 kebaikan dalam
bulan Sya’ban karena kata Sya’bān (شَعْبَانَ) merupakan singkatan dari huruf الشين (الشَّرَفُ) yang berarti kemuliaan. Huruf العين (العُلُوُّ) yang berarti derajat dan kedudukan yang
tinggi lagi terhormat. Huruf الباء (البِرُّ) yang
berarti kebaikan. Huruf اليف (الأُلْفَة) yang
berarti kasih sayang. Huruf النون (النُّوْرُ) yang
berarti cahaya. Berlomba-lombalah meraih cahaya bulan Sya’ban mumpung Allah
beri kita berjumpa, tahun depan belum tentu Allah pertemukan lagi.
Kedua, Malam Diampuni Dosa Semua MakhlukNya.
Hadits ini menjadi dalil membicarakan keutamaan malam
Nishfu Sya’ban, yaitu hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah saw
bersabda,
إِنَّ
اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ
خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun)
di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang
musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah).
Pada malam nisfu sya’ban Allah swt memperhatikan
semua makhlukNya, Allah mengampunkan semua makhlukNya kecuali ada 2 orang yang
tidak diberikan ampunan dan tidak dikabulkan doanya :
(1). Musyrik, orang yang masih mempersekutukan Allah, masih
mau datang kepada dukun, masih minta kepada benda keramat maka orang tersebut
segeralah bertaubat nasuha, berhentilah menjelang malam nisfu sya’ban ini,
bukan hanya menjelang malam nisfu sya’ban, kapan aja berhenti berbuat dosa,
sholat sunah taubat, banyak beristigfar, minta ampun kepada Allah atas segala
dosa yang pernah dilakukannya, bisa jadi malam nisfu sya’ban kali ini terakhir
kita bertemu.
(2). Musyahin, Orang yang suka menimbulkan pertikaian, menyulut
api permusuhan, orang yang belum berdamai dengan musuh, dengan saudara, dengan kerabat,
dengan tetangga, dengan sahabat, maka segeralah berdamai, damaikan hati karena damai
itu indah, jangan lagi bermusuhan, tidak boleh mediamkan, memusuhi, berkelahi,
tidak saling tegur sapa, dll. Rasulullah saw melarangnya,
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ
بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ
يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا
وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
Dari Abu Ayyub Al-Anshari bahwa Rasulullah
bersabda : “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya melebihi
tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan
sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”
Oleh karena itu setelah bersih dari syirik,
bersih dari permusuhan baik hablum minallah dan hablum minnas bertemu dengan malam
nisfu sya’ban lakukan amal sholeh sebanyak-banyaknya agar dosa-dosa diampuni
dan segala doa dikabulkan serta diterima Allah swt.
Kedua, Malam Baca Al-Quran dan Suroh Yasin.
Ulama menganjurkan untuk memperbanyak
membaca Alquran sejak bulan Sya’ban karenanya sya’ban juga disebut sebagai
bulan Qurro (membaca Al-Quran). Salamah bin Kahiil berkata,
كَانَ يُقاَلُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ
القُرَّاءِ
“Dahulu bulan Sya’ban disebut pula
dengan bulan para qurra’ (pembaca Alquran).”
Terkhusus lagi membaca suroh Yasin pada malam
nisfu sya’ban. Dalilnya secara umum hadits Nabi saw
عَنِ
الْحَسَنِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ :
«مَنْ قَرَأَ يَس فِي لَيْلَةٍ، أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ» (مُسْنَدُ أَبِي
يَعْلَى)
“Barang siapa membaca surat Yasin maka Allah
mengampuni-nya di pagi hari”
Tidak disebutkan malam tertentu, perintahnya
adalah membaca suroh Yasin malam hari maka pada waktu shubuhnya sudah diampuni
dosanya oleh Allah swt. Riwayat lain disebutkan.
وأخْرَجَ
ابْنُ حِبّانَ، والضِّياءُ عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قالَ: قالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : «مَن قَرَأ ”يس“ في لَيْلَةٍ ابْتِغاءَ وجْهِ
اللَّهِ غُفِرَ لَهُ
“Barangsiapa membaca surah Yasin karena
mengharap ridho Allah, maka akan diampuni.”
Surah Yasin itu seperti jantungnya al-quran,
disebutkan dari riwayat Anas ra,
عَنْ
أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى
الله عليه وسلم : «إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يَس، وَمَنْ
قَرَأَ يَس، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ
مَرَّاتٍ» (سُنَنُ التِّرْمِذِي)
Dari Anas r.a., ia berkata : Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya setiap sesuatu
memiliki hati, dan hati Al-Qur’an adalah Yasin. Barang siapa membaca surat
Yasin, maka Allah menuliskan baginya pahala seperti membaca Al-Qur’an sepuluh
kali.” (HR. at-Tirimizdi).
Bahkan diriwayatkan Abu Yala juga disebutkan
membacanya tiap malam jumat,
مَنْ
قَرَأَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ حم الدُّخَانَ وَيس أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barang siapa membaca di malam Jumat Surat
Hamim ad-Dukhan dan surat Yasin maka Allah mengampuni-nya di pagi hari” (HR al-Baihaqi).
Lalu kenapa setalah membaca suroh Yasin
dilanjutkan dengan berdoa, itu namanya bertawassul (wasilah) dengan amal sholeh.
Hukumnya masyru’ (dibolehkan) tawassul dengan amal sholeh dan dengan
menyebut Asmaul Husna (nama-nama Allah), termasuk bertawassul dengan
suroh alfatehah.
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٣٥
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan
berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.“ (QS. Al-Ma'idah : 35).
Bisa kita tengok, bolehnya bertawassul dengan
amal sholeh hadist tentang tiga orang yang terjebak di dalam goa, diantara
mereka berdoa kepada Allah dengan bertawassul :
(1). Berdoa kepada Allah dengan sebab berbakti
kepada orang tuanya minta dibukakan
pintu goa, lalu terkabul doanya sehingga terbuka sedikit pintu goa namun belum
bisa kluar dari dalam goa tersebut.
(2). Berdoa kepada Allah dengan sebab barokah
tidak jadi berzina dengan sepupunya, Allah bukakan pintu goa itu sedikit.
(3). Berdoa kepada Allah berkat sedekahnya
minta dibukakan agar pintu goa terbuka, lalu Allah buka lebar-lebar sehingga
bisa keluar dari terhimpitnya batu besar. Ini berkat tawassul dengan amal
saholeh.
Kisah Tiga Orang yang Tertutup Batu dalam Goa.
Disebutkan dalam
hadits Imam Bukhori dan Muslim.
Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin
Umar bin al-Khaththab ra, berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
انْطَلَقَ
ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ
فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ
الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ
تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ
“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum
kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam
di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu
besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata
bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar
tersebut kecuali jika mereka semua berdoa kepada Allah dengan menyebutkan
amalan baik mereka.”
فَقَالَ
رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ
لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ
يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا
غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا
أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ
اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا
غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ
فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ
شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ
Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai dua orang tua yang sudah sepuh dan lanjut usia. Dan aku tidak pernah memberi minum susu (di malam hari) kepada siapa pun sebelum memberi minum kepada keduanya. Aku lebih mendahulukan mereka berdua daripada keluarga dan budakku (hartaku). Kemudian pada suatu hari, aku mencari kayu di
tempat yang jauh. Ketika aku pulang ternyata mereka berdua telah terlelap
tidur. Aku pun memerah susu dan aku dapati mereka sudah tertidur pulas. Aku pun
enggan memberikan minuman tersebut kepada keluarga atau pun budakku. Seterusnya
aku menunggu hingga mereka bangun dan ternyata mereka barulah bangun ketika
Shubuh, dan gelas minuman itu masih terus di tanganku. Selanjutnya setelah
keduanya bangun lalu mereka meminum minuman tersebut. Ya Allah, jikalau aku
mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah
kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini”.
Batu besar itu tiba-tiba terbuka sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar
dari goa.
قَالَ
النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ
عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ،
فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ،
فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ
بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ
لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ
الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ
وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ
ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ
الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا
“Nabi saw bersabda, lantas orang yang lain pun
berdo’a, “Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya.
Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu
beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya
120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias :
berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari
lisannya, “Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar
(maksudnya : barulah halal dengan nikah, bukan zina).” Aku pun langsung
tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai.
Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah,
jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan
wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar
yang menutupi kami ini.” Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi, namun
mereka masih belum dapat keluar dari goa.
قَالَ
النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى
اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ
تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ
الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ
أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ
وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى .
فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ
يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ
وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ
فَخَرَجُوا يَمْشُونَ
“Nabi saw bersabda, lantas orang ketiga
berdo’a, “Ya Allah, aku dahulu pernah mempekerjakan beberapa pegawai lantas
aku memberikan gaji pada mereka. Namun ada satu yang tertinggal yang tidak aku
beri. Malah uangnya aku kembangkan hingga menjadi harta melimpah. Suatu saat ia
pun mendatangiku. Ia pun berkata padaku, “Wahai hamba Allah, bagaimana dengan
upahku yang dulu?” Aku pun berkata padanya bahwa setiap yang ia lihat itulah
hasil upahnya dahulu (yang telah dikembangkan), yaitu ada unta, sapi, kambing
dan budak. Ia pun berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau bercanda.” Aku
pun menjawab bahwa aku tidak sedang bercanda padanya. Aku lantas mengambil
semua harta tersebut dan menyerahkan padanya tanpa tersisa sedikit pun. Ya
Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar
mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari
batu besar yang menutupi kami ini”. Lantas goa yang tertutup sebelumnya pun
terbuka, mereka keluar dan berjalan. (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari dan
Muslim).
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه
مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanaunuan



.jpeg)







