Khutbah Jumat (Edisi 194) Tema : “HIKMAH PUASA : MEMBANGUN TAQWA”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin
Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 194) Tema :
“HIKMAH PUASA : MEMBANGUN TAQWA”
Oleh : Nur Anwar Amin
(adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMI’ NURUL ISLAM Islamic Center Kota Bekasi
Jumat, 06 Maret 2026 M/16 Ramadhan 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Hidup itu hanya sesaat, hanya sebentar saja, tidak ada
yang abadi, semuanya fana dan akan binasa, dunia ini pastinya akan kita
tinggalkan saat kembali pulang kampung menghadap Sang Pencipta, terasa belum
siap kalau harus segera meninggalkan dunia ini, bekal kebaikan belum cukup
banyak, hidup masih diselimuti dosa dan penuh bayang-bayang fatamorgana.
Hebat dan bersyukurnya menjadi umat Nabi Muhammad saw
bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan adalah anugrah termahal dan terindah, semua
aktifitas Ramadhan bernilai tinggi, serat dengan pahala kebaikan, pahalanya pun
besar dan berlimpah, satu malam saja beramal sholeh setara dengan 83 tahun 4
bulan beribadah, pantas saja Ramadhan disebut bulan untuk banyak berbekal dan
bekal terbaik itu adalah ketaqwaaan. Firman Allah swt.
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ
خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa." (QS. Al-Baqarah : 197).
Belum lagi kata رمضان,
huruf per hurufnya itu bermakna, sehingga tidak heran sejak bulan Rajab dan
Sya’ban berdoa minta disampaikan bertemu dengan bulan Ramadhan, satu ayat saja
dikaji, bikin merinding tidak ingin menyia-nyiakan seluruh waktu selama satu
bulan penuh, karena bisa jadi ini Ramdhan terakhir untuk kita. Apa saja
hikmahnya agar kita menjadin insan muttaqin.?
Pertama,
Indahnya Orang Beriman.
Hari senin
dibulan Sya’ban tahun kedua hijrah saat Nabi saw kurang lebih berada 2 tahun di
kota Madinah turunlah satu ayat dalam al-quran suroh al-Baqoroh yaitu ayat 183
dan indahnya ayat ini dibuka dengan kalimat iman.
Perlu dicatat,
setiap ada kalimat iman membuka ayat al-quran, itu menentukan kadar keimanan
dan pembuktian seseorang dihadapan Allah swt sekaligus ada tiket termahal yang
akan diberikan kepadanya untuk meraih agar dapat memasuki surga terindah yang didambakan
semua orang.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).
Diawali
kalimat يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا dalam kaidah bahasa arab "يَا"
هي حرف نداء (huruf panggilan) dan kata "يَا"
itu تُستخدم للقريب والبعيد والمتوسط
(digunakan untuk memanggil objek manapun dalam 3 jarak utama, dekat, menengah
ataupun jauh dan yang dipanggil adalah الَّذِيْنَ
untuk menunjukkan semua kalangan tanpa batas, mau laki-laki, perempuan, mau
besar, kecil, mau tua, muda sepanjang mereka sudah baligh, yang dipanggil adalah
nilai keimanannya اٰمَنُوْا para ulama lughotul
quran berkata “ketika kalimat اٰمَنُوْا
disandingkan dengam huruf "يَا"
seakan-akan ada kalimat dan makna yang indah didalamnya.
Wahai orang-orang
yang merasa punya iman, tidak peduli keadaan imannya kuat sehingga merasa dekat
dengan Allah swt sampai-sampai sebelum adzan berkumandang sudah datang ke
masjid, atau imannya menengah sehingga jarak dengan Allah biasa-biasa saja, saat
adzan berkumandang baru datang, atau merasa imannya lemah sampai dengan saat
ini, sehingga sudah iqomah belum juga datang, Allah tidak peduli itu, Allah
akan turunkan kepada orang beriman satu jenis ibadah yang dengan ibadah itu
iman yang kuat semakin menguat, iman yang menengah semakin dekat dan iman yang
jauh semakin dekat kepada Allah swt.
Allah
menegaskan sekali lagi dengan menggunakan kata اَيُّهَا
ibadah yang akan mendekatkan kalian dengan Allah swt lebih daripada ibadah-ibadah
lainnya yaitu كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
ibadah itu namanya puasa. Allah buktikan langsung diawal puasa Ramadhan,
pemberian nilai keimanan begitu dahsyat dari Allah swt, jangankan yang kuat
imannya, imannya yang lemah saja yang sebelum Ramadhan tidak pernah ke masjid,
malam pertama Ramadhan sudah berada di shaf terdepan, begitu juga bagi
yang tidak pernah membaca al-quran atau jarang-jarang membacanya pada malam
pertama Ramadhan sudah bisa tadarusan. Hanya persoalannya, tidak semua orang yang
mendapatkan nilai-nila keimanan mampu mempertahankannya, sangat disayangkan,
diawal sudah diberikan kadang dipertengahan mulai terjadi pergeseran bahkan
nyaris meninggalkannya.
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Begitu ayat
ini turun semua merasakan bahagia, semua gembira bahkan kebahagiannya tak
terlukiskan karena mereka mengetahui dipanggil dengan kalimat يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا dimana
ada tiket surga yang sangat dinantikan, surga yang dirindukan, ada amalan yang
harus dibuktikan, dan dahsyatnya bulan puasa Ramdhan itu dapat mengumpulkan
ibadah lebih daripada sebelumnya, seperti ibadah sholat diperbanyak dan
ditingkatkan, membaca al-quran diperbanyak, sodaqoh diperbanyak maka semakin
bahagia orang pada saat itu karena tiket dan bekalnya semakin diperbanyak dan
dipercepat menju surgaNya, karena itulah tidak ada satupun diantar para sahabat
tabiin ketika mendekati Ramadhan kecuali mempercepat kerinduannya untuk tiba
dimasanya agar dapat mengantarkan meraka ke surga. Justru akan menjadi aneh
jika datang bulan suci Ramadhan ada perasaam tidak nyaman, tidak bahagia itu
menunjukan bahwa belum siap untuk masuk ke surga dan imannya cukup lemah karena
belum tentu Ramadhan tahun depan kita masih dipertemukan lagi.
Kedua, Raih
Taqwa dengan Serius dan Sunguh-sungguh.
Apakah
setiap yang puasa itu otomatis memiliki banyak bekal tuk menuju surga? Jawabannya,
belum tentu. Karena ternyata ayatnya berlanjut “hai orang-orang yang telah menyatakan beriman kepada Allah, Aku
wajibkan engkau menunaikan puasa, dengan puasa bisa menguatkan imanmu,
mendekatkan dirimu kepada Ku, mempercepat bekalmu tuk ke surga, sebagaimana Aku
wajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertaqwa.
Coba
perhatikan, dipenghujung ayat ini Allah gunakan kata لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ. Kata لَعَلَّكُمْ, terdiri dari kata لعلى dan كم.
Kata كم menunjuk kepada kita yang berpuasa dan لعلى menurut Imam Sibawaih
memiliki dua makna dengan satu penekanan yang sama yaitu At-Tarajji (الترجي)-Pengharapan Baik dan Al-Isyfaq (الإشفاق)-Kekhawatiran. Artinya, harapan yang
sangat ingin diraih tapi mustahil bisa diwujudkan kecuali dengan kesungguhan yang
dalam, sehingga pesannya, Allah ingin mengatakan tidak semua orang puasa akan
meraih derajat taqwa kecuali orang yang serius dan sunguh-sungguh saat mejalani
puasanya.
Ibadah itu
tiket surga, jika semua jenis ibadah dikumpulkan tiketnya disatukan itulah namanya
tiket taqwa, begitu dikumpulkan tiket taqwa inilah yang menentukan surga bagi
kita, karena ketika kita ingin memasuki surga, ada jenis-jenis surga dalam
alquran yang umumnya selalu disandingkan dengan kalimat-kalimat taqwa. Contoh :
ada surga yang saat kita memasuki bentangan keluasnya itu seluas langit dan
bumi. Firman Allah swt
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣
“Bersegeralah
menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi
yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali 'Imran : 133).
Bersegeralah
untuk mengevaluasi diri dengan banyak beristighfar, koreksi diri biar jadi lebih
baik dan berharaplah, bercita-citalah masuk surga, yang sudah Allah siapkan
tempatnya untukmu seluas langit dan bumi اُعِدَّتْ
لِلْمُتَّقِيْنَۙ kami sediakan untuk orang bertaqwa.
Begitu ia
mau masuk ke surga yang luasnya langit dan bumi ini, taqwanya dicek dan
dikumpulkan tiketnya darimana mendapatkan nilai taqwa ini, amalnnya adalah
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
“(yaitu)
orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit,
orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan
(kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran : 134).
Orang yang
gemar berinfaq dalam keadaan lapang ataupun sulit, orang yang sangat mampu
menahan amarah dan orang yang memaafkan kesalahan orang lain serta orang yang banyak
berbuat baik (amal sholeh) dalam kehidupan dan dicintai oleh Allah swt, Allah
sediakan jenis surganya
اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ١٥
“Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa berada dalam (surga yang penuh) taman-taman dan mata
air.” (QS. Adz-Dzariyat : 15).
Indahnya
ketika berada di taman dengan pemandangan yang indah, nyaman, dan nikmat, Allah
bebaskan sesuai yang mereka inginkan,
اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا
قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ ١٦
“(Di surga)
mereka dapat mengambil apa saja yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.
Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (QS. Adz-Dzariyat : 16).
Mereka
mendapatkan kenikmatan langsung dari Allah swt, mereka adalah orang yang bertaqwa,
bagaimana mereka mengumpulkan tiket taqwanya untuk mendapatkan taman surga
terindah. Amalannya adalah,
Pertama, Sedikit
Tidurnya.
كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ ١٧
“Mereka
sedikit sekali tidur pada waktu malam,” (QS. Adz-Dzariyat
: 17).
Kalimat يَهْجَعُوْنَ itu tidur malamnya
sedikit, lebih banyak ibadahnya, bukankah di bulan Ramadhan kita sedikit
tidurnya dan orang yang seperti ini bisa masuk ke dalam surga yang telah
disedikan dengan segala kenikmatannya.
Maksudnya,
ketika Allah mengundang kita dengan puasa dan Allah tutup ujungnya dengan
kalimat taqwa ada surga yang terbentang menjadi pilihan, kita bisa masuk ke
taman surga yang seluas langit dan bumi dan semua peluang itu berkumpul saat Ramadhan
karena semua amalan-amalan baik dimaksimalkan disaat bulan Ramadhan,
Kedua, Amalan
Sholat.
Taqwa itu
adalah kondisi terdekat dengan Allah, jalannya dibangun lewat ibadah, untuk
mencapai taqwa itu lewatnya ibadah, salah satunya sholat, disebutkan kalimat
taqwa dalam alquran,
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى
لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ٢
“Kitab
(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi
orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-Baqarah : 2).
Orang taqwa
di ayat ini ada pada ayat ke 3 suroh albaqoroh,
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ
وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ ٣
“(yaitu)
orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan
sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” (QS. Al-Baqarah : 3).
Coba
bedakan tulisan sholat di ayat ke 3 suroh albaqoroh dengan ayat ke 238 suroh
albaqoroh,
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ ٢٣٨
“Peliharalah
semua salat (fardu).” (QS. Al-Baqarah : 238).
Penulisan
sholat dengan huruf ت terbuka الصَّلَوٰتِ tapi
ketika Allah berfirmn di albaqoroh ayat 3 penulisan sholat dengan huruf ة marbuthoh الصَّلٰوةَ.
Bedanya adalah :
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ ini
maksudnya sholat fardhu 5 waktu, sementara الصَّلٰوةَ
ini maksudnya sholat sunah, jadi, jika ingin menambah dari yang fardhu itu dengan
tambahan sunah seperti 12 rokaat qobliyah badiayah, sholat tahajjud dll.
Dan orang
taqwa dalam al-quran itu disifatinya الصَّلٰوةَ ini. Jika ingin meningkatkan peribadi lebih taqwa, naik
levelnya yang Allah tantang adalah naikkan dari yang fardhu, begitu الصَّلٰوةَ ini optimal terus naik lalu apa kaitan
taqwa dengan kehidupan kita?, contohnya Sayyidah Aisya begitu tinggi ilmunya,
hubungan taqwa dengan ilmu ditemukan dalam firmanNya,
وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Allah
memberikan pengajaran kepadamu tentang hak dan kewajiban, dan Allah Maha
Mengetahui Segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh :
282).
Tingkatkanlah
taqwamu kepada Allah, semakin menigkat taqwa mu, Allah tanamkan, Allah ajarkan
dan tambahkan pengetahuan pada dirimu, jadi percepatan pengetahuan itu bukan
hanya ditempuh dengan ikhtiar kita untuk menghafal dan belajar. Namun jika ingin
cepat dapat aksesnya, dekati pemiliknya, yaitu yang punya ilmu Allah swt, yang
punya harta Allah swt. Makanya orang dulu itu cerdas, kalau ingin cepat pintar
yang diajarkan terlebih dahulu itu sholat.
Ketiga, Taqwa
itu Ekspresi Kebahagiaan.
Kalau ada
iman berarti ada amal sholeh dan kalau sudah dihadirkan amal sholeh tujuannya untuk
baik dan kebaikan itu akan menghantarkan kebahagiaan dan kesuksesan, biasanya kalau
sudah bahagia dan sukses kita harus bersyukur kepada Allah swt, maka diakhir
ayat setelah selesai puasa kita bersyukur dengan takbir,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى
مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥
“Hendaklah
kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS.
Al-Baqoroh : 185).
Karena
puncak akhir Ramadhan itu golnya adalah kebahgiaan dan kesuksesan yang diwujudkan dengan kata taqwa lalu
diekspresikan dengan syukur. Orang bahagia itu kalau punya masalah kemudian
datang solusi, bahagia itu kalau perlu materi, perlu rezeki kemudian tiba-tiba
datang bahkan datangnya dari sisi yang tidak diduga maka bahgianya akan
berlipat, bahagia itu ketika ujian, tiba-tiba soal ujiannya sesuai dengan yang diharapkan
atau bisa menjawab dengan sempurna, maka semua ekspresi kebahgiaan yang
didapatkan itu ternyata digambarkan oleh alquran dengan satu kata yang bernama “taqwa”,
semakin meningkat taqwanya maka semakin cepat kita mendapatkan solusinya dari
setiap persoalan yang kita alami
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢
“Siapa yang
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (QS. At-Thalaq : 2).
Kalau sudah
pakai مَنْ itu personal sifatnya, tawaran untuk mendapatkan
taqwa itu personal, panggilannya umum dan siapapun yang mampu meningkatkan
taqwanya kepada Allah maka Allah akan dekatkan ia pada solusi dari setiap
persoalan yang ia alami dan kata مَخْرَجًاۙ
itu نَكِرَةٌ (umum, masalah apa saja). Seperti
persoalan terbesar dalam rumah tangga yang kadang melahirkan celah untuk
berpisah, kalau pun ada taqwa itu menjadi solusi.
Begitu juga
urusan rezeki. Firman Allah swt
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ
يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ
قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
“dan
menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat
ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS.
At-Thalaq : 2).
Urusan ilmu,
siapa saja yang meningkatkan taqwanya kepada Allah pasti Allah tambahkan
pengetahuannya.
وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“Bertakwalah
kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh : 282).
Seperti Nabi
Musa as diminta belajar kepada hamba yang sholeh yaitu Nabi Hidhir, bagaimana
ia bisa pintar,
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً
مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا ٦٥
“Lalu,
mereka berdua bertemu dengan seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami
anugerahi rahmat kepadanya dari sisi Kami. Kami telah mengajarkan ilmu
kepadanya dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahf : 65).
Mau
kebahgiaan, langsung bahagia dengan taqwa. Firman Allah swt
وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ١
“dan
bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqoroh : 189).
Semua itu karena
taqwa dan akumulasi semua ini ketika kita dudukan dalam satu tujuan ternyata
mengakhiri ayat puasa itu dengan taqwa
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
“Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).
Tidak semua
orang puasa akan mendapatkan taqwa kalau ia tidak sungguh-sungguh menjalani
puasanya karena kata تَتَّقُوْنَۙ diawali dengan kata لَعَلَّكُمْ (yaitu keingin untuk meraih sesuatu yang
besar yang tidak mungkin dapat dicapai kecuali dengan kesengguhan).
Jadi, orang
puasa berkeinginan besar mendapatkan taqwa namun kata Allah tidak mungkin bisa
dicapai kecuali serius menjalaniya, dan keseriusan itu baru bisa terlaksana
jika ada programnya, disiapkan dari awal Ramadhan, siang dan malamnya penuh
dengan amaliah Ramadhan. itulah sebabnya puasanya menggunakan kata الصِّيَامُ bukan dengan kata الصوم. Karena kata الصوم hanya sekali disebutkan dalam alquran,
اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ
الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ ٢٦
“Sesungguhnya
aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena
itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam : 26).
Arti الصوم dalam bahasa arab itu maknanya masih umum,
bisa puasa lapar, dahaga, puasa tertawa, berbicara, berkedip apa saja yang
ditahan, karena itu Sayyidah Maryam ketika melahirkan Nabi Isa as maka Maryam yang
tidak pernah disentuh laki-laki manapun.
قَالَتْ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ
بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا ٢٠
“Dia
(Maryam) berkata, “Bagaimana (mungkin) aku mempunyai anak laki-laki, padahal
tidak pernah ada seorang (laki-laki) pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang
pelacur?” (QS. Maryam : 20).
Maryam bisa
mengandung, bisa melahirkan, begitu beliau mengandung dan melahirkan munculah
fitnah dan tuduhan, kata Allah jika kamu ditanya, jangan jawab, tunjukkan saja
bayinya, engkau sedang الصوم yaitu puasa bicara
namun masih tetap makan.
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ فَاِمَّا
تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ
صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّاۚ ٢٦
“Makan,
minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah,
‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih.
Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’” (QS. Maryam : 26).
Berbeda
dengan kata الصِّيَامُ ada
aturannya, diatur waktunya, bulannya khusus tidak sembarangan, bukan puasa
biasa, ada latihan khusus maka turun ayat pembukanya
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ
“Bulan
Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah : 185).
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه
مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanaunuan
uanaunuan



.jpeg)






