Khutbah Jumat (Edisi 133) Tema : “Akhir Tahun Waktunya Menghisab Diri dan Jangan Ikuti Tradisi Orang Kafir”

Khutbah Jumat (Edisi 133) Tema : “Akhir Tahun Waktunya Menghisab Diri dan Jangan Ikuti Tradisi Orang Kafir”

 

Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 133) Tema  :

“Akhir Tahun Waktunya Menghisab Diri dan Jangan Ikuti Tradisi Orang Kafir”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ ARROHMAH Kp.Irian Kel. Teluk Pucung Kota Bekasi. Jumat, 29 Desember 2023 M/16 Jumadil Akhir 1445 H. 


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Hari ini merupakan hari jumat terakhir kita bertemu di penghujung tahun 2023, tahun baru 2024 sudah di depan pintu gerbang, belum tentu esok, jumat depan bahkan tahun depan tidak ada yang bisa menjamin apakah kita masih hidup atau sudah kembali menghadap Sang Ilahi Robby, yang bisa kita lakukan adalah terus berdoa dan meminta kepada Allah swt agar kita diberi sehat, panjang umur dan tentunya taufiq dan hidayahNya agar tahun ini seluruh amal kita Allah swt terima dan siap melakukan amal yang lebih baik di tahun yang akan datang. Karenanya ada Tiga hal yang mesti kita lakukan agar semua amal menjadi baik.

Pertama, Amal itu Dihitung Akhirnya.

Dipenghujung ajal kita belum tahu apakah baik atau buruk, bahagia atau sengsara, husnul khotimah atau su’ul khotimah karena setiap seseorang itu dinilai adalah pada akhirnya. Nabi saw bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari).

Karena itu ciri orang beriman jangan pernah berhenti terus berdoa dengan doa yang sering kita dengar dan kita baca setiap saat agar kita tercatat orang-orang yang husnul khotimah dan seluruh aktifitas kehidupan kita selalu disandarkan kepada Allah swt, ialah

اَلـلَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاِتمَةَ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةَ

“Ya Allah, kami memohon husnul khatimah dan jauhkan kami dari su-ul khatimah (mati yang buruk, tanpa iman)”

Nabi saw pun juga sering berdoa agar beliau dipenghujung amalnya menjadi baik segala urusannya penuh dengan kebaikan

اَللّٰهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْأٰخِرَةِ

“Wahai Allah, jadikan semua urusan dan perjalanan hidup kami berakhir dengan kemuliaan, dan jauhkan kami dari hina di dunia dan siksa di akhirat.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِمَهُ ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan-Mu (di hari kiamat).” (HR. Ibnu As-Sunni).


Jadikanlah dipenghujung tahun ini ditutup dengan melakukan amal sholeh, bukan sebaliknya dengan berpesta pora, pesta miras, pesta wanita, pesta kembang api, pesta petasan dan lain sebagainya untuk merayakan tahun baru yang jelas-jelas tahun baru masehi bukan milik tahun baru umat islam, jika kita merayakannya maka kita sudah menutup amal kita dengan yang tidak diajarkan Rasulullah saw

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim).


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Kedua, Muhasabah Diri Setiap Waktu.

Bisa jadi hari ini kita terakhir ada di dunia, sudahkah kita menghisab diri, introspeksi diri karena perkara yang paling penting dalam hidup kita adalah mampu menghisab diri sendiri, hisablah diri setiap saat karena bisa jadi ini hisab yang terkahir. Terkadang kita sering melupakan kekurangan (aib) yang ada pada diri sendiri sehingga terlalu mudah bahkan terlalu sibuk menilai orang lain sampai kita buta dan lupa menilai diri sendiri padahal Umar bin Khattab ra berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

“Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.” (HR. Ahmad).


Satu hal yang harus diyakini bahwa hisab itu pasti ada dan kita semua pasti akan dihisab, jangan pernah ragu, semua yang kita kerjakan selama di dunia ini akan diminta pertanggungjawabannya dan pastinya akan dihisab tidak akan terlewatkan sekecil apapun. Sudah dijelaskan di dalam al-qur`an. Firman Allah swt.

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ ﴿٧﴾ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah”. (QS. Al-Insyiqaq :7-8).

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ﴿١٠﴾فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا﴿١١﴾وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak : “Celakalah aku”. Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Al-Insyiqaq : 10-12).

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ﴿٢٥﴾ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah : 25-26).

الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ ۚ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” (QS. Al-Mu’min : 17).

Termasuk bagian dari usaha kita agar kelak dapat meraih hisab yang mudah di akhirat, baca dan amalkan doa ini yang diajarkan Nabi saw. Dari Aisyah ra.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِى بَعْضِ صَلاَتِهِ « اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا ». فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ قَالَ « أَنْ يَنْظُرَ فِى كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزَ عَنْهُ إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَوْمَئِذٍ يَا عَائِشَةُ هَلَكَ وَكُلُّ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ تَشُوكُهُ

Dari Aisyah, ia berkata, saya telah mendengar Nabi saw pada sebagian shalatnya membaca, “ اللَّهُمَّ حَاسِبْنِى حِسَاباً يَسِيرًا (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah).” Ketika beliau berpaling saya bekata, “Wahai Nabi Allah, apa yang dimaksud dengan hisab yang mudah?” Beliau bersabda, “Seseorang yang Allah melihat kitabnya lalu memaafkannya. Karena orang yang diperdebatkan hisabnya pada hari itu, pasti celaka wahai Aisyah. Dan setiap musibah yang menimpa orang beriman Allah akan menghapus (dosanya) karenanya, bahkan sampai duri yang menusuknya.” (HR. Ahmad).


Makna “hisab yang mudah” adalah saat di mana dosa-dosa seorang mukmin di hadapkan pada Allah, lalu ia pun mengakui dosa-dosanya itu. Kemudian setelah itu Allah mengampuni dosa-dosanya setelah ia bersendirian dengan Allah dan tidak ada seorang pun yang melihatnya ketika itu.


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Ketiga, Jangan Ikuti Budaya Orang Kafir.

Untuk umat islam sangat tidak dibenarkan ikut-ikutan merayakan tahun baru masehi  karena dalam sejarah telah tercatat bahwa peneguasa romawi Julius Caesar menetapkan 1 januari  sebagai permulaan tahun baru sejak abad ke 45 sm, orang Romawi mempersembahkan 1 Januari pada Janus Dewa segala gerbang pintu-pintu permulaan waktu, bulan Januari pun diambil dari nama Janus itu sendiri dalam tradisi Romawi kuno Dewa Janus diyakini memiliki dua wajah, satu wajah menghadap kedepan dan satunya lagi menghadap kebelakang sebagai filosofi masa depan dan masa lalu layaknya moment pergantian tahun baru. Jelas ini sangat bertentanagn dengan ajaran agama islam.


Haram hukumnya bagi seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan hari raya kaum kafir تشبه بالكفار باعيادهم menyerupai hari raya orang-orang kafir sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Anas bin Malik.

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Dari Anas bin Malik dia berkata : "Dahulu orang-orang Jahiliyah mempunyai dua hari dalam setiap tahun untuk bermain-main. Setelah Rasulullah saw datang ke Madinah, beliau saw bersabda: 'Kalian dahulu mempunyai dua hari untuk bermain-main, sungguh Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari (raya) Fitri dan hari (raya) Adha (Kurban)” (HR. Abu Darda dan Nasai).


Sesungguhnya bagi umat islam pergantian hari dan waktu adalah merupakan tanda-tanda akan kebesaran dan kekuasaan Allah swt.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ۝١٩٠

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 190).

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Ali Imran : 191).


Seorang mu’min ketika ia mengetahui bagaimana kebesaran Allah swt. Allah menjalankan roda waktu ini kemudian Allah pula yang membalikkan kehidupan manusia, hari ini kita tertawa entah esok kita menangis, hari ini kita diberikan kemudahan entah mungkin esok kita akan diberikan kesuitan, hari ini kita diberikan kekayaan dan kesenangan, mungkin esok lusa kita diberikan kemiskinan dan kesulitan, hari ini kita masih hidup mungkin esok kita akan wafat. Demikianlah Allah swt mentakdirkan segala sesuatunya.

وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran : 140).


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Merayakan tahun baru masehi itu membawa mudhorot dan bahaya yang sangat besar untuk Aqidah dan keyakinan kita sebagai umat muslim karena kita termasuk orang-orang yang telah menyerupai perilaku dan gaya orang-orang kafir karena ini bukanlah kebiasaan kaum muslim. Dari Ibnu Umar, Nabi saw bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi).

Kenapa sampai kita dilarang meniru-niru orang kafir secara lahiriyah? Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ

“Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).


Oleh karena itu orang-orang muslim tidak boleh ikut-ikutan menyerupai orang-orang kafir. Harusnya kita berbangga-bangga dengan ajaran agama kita, kita juga bergembira dengan kitab suci kita yang Allah turunkan kepada Nabi saw, al-quran dan as-Sunah agama yang benar, apakah ini belum cukup untuk kita, undang-undang yang Allah turunkan tidak akan pernah membuat sesat kita.

اَوَلَمْ يَكْفِهِمْ اَنَّآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ يُتْلٰى عَلَيْهِمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَرَحْمَةً وَّذِكْرٰى لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ

“Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ankabut : 51).


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Agama islam itu hadir ditengah-tengah kita selain sebagai pembawa rahmatan lill‘alamin, islam juga hadir sebagai pembeda ajaran antara agama-agama terdahulu Yahudi dan Nasrani, hari jumat adalah hari raya umat islam, hari sabtu adalah hari raya umat Yahudi dan hari ahad adalah hari raya umat Nasrani. Begitu juga seperti hadirnya perintah sholat, Rasulullah saw menyebutkan ibadah sholat sebagai pembeda cara ibadah orang muslim dengan orang kafir. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, ”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’I dan Ibnu Majah).


Ibadahnya saja sudah sangat dibedakan antara muslim dengan non muslim, begitu juga cara ritual keagamaan lainnya sudah pasti sangat berbeda. Cara merayakan hari ulang tahun, cara merayakan tahun baru, menunggu pergantian malam tahun baru 1 januari dengan membunyikan terompet, membunyikan lonceng, pesta kembang api dan lain sebagainya perciss larangan ini seperti hadits Rasulullah saw. Ibnu ‘Umar, di mana beliau berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا ، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ . فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ»

“Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kirakan waktu shalat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi.” Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.” Lalu Rasulullah saw berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah azan untuk shalat.”  (HR. Bukhari dan Muslim).


مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله

Inilah tanda-tanda hari kiamat dimana umat Nabi Muhammad saw sudah banyak mengikuti tradisi, budaya, ajaran, adat istiadat dan hari raya non muslim sedikit demi sedikit sampai akhirnya umat muslim mengikuti mereka seluruhnya. Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah saw “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Bukhar).


Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun,-pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم

uanuan

 





UMROH AWAL TAHUN 2024 UMROH 11 Hari
Wafizs Al-Amin Centre Bekasi
By Pesawat Saudia Airlines (SV 827)

KEUNGGULANNYA :
 3 Kali Manasik
4 Kali Umroh Dengan 4 Tempat Miqot
 Free Perlengkapan
Free Bermalam Di Hotel TRIDENT Jeddah. 

KEBERANGKATAN  :
Senin, 29 Januari 2024
 Pukul 14.00 Pelepasan Di Yayasan Wafizs Al-Amin Center & Sholat Ashar Berjamaah
 Pukul 19.00 Kumpul di Bandara Soekarno Hatta (Lounge @Zukafia) 
Pukul 00.40 Take Off to Jeddah (30 Januari 2024) 
 Pukul 06.40 Tiba di Bandara King Abdul Azis Jeddah. 

KEPULANGAN  :
Kamis, 08 Pebruari 2024
By Pesawat Saudia Airlines (SV 816) 
Pukul 09.00 wib Tiba di Bandara Soekarno Hatta

#Follow US :
________
Media Sosial Yayasan Wafizs Al-Amin Center

Instagram : wafizscenter & @adjienung
Facebook  : Wafizs Al-Amin Center & Adjie Nung 
Youtube     : Wafizs Center & Nur Anwar Amin
Tiktok        : @wafizscenter & @adjienung

Informasi Pendaftaran Haji dan Umroh WA : 085778141993 - 08161191890 - 081584282565

Wafizs Al-Amin Centre 
“Berbagi Cahaya Di Atas Cahaya”


Dengan RAHMAT ALLAH. Alhamdulillah Wa Syukrulillah
TELAH TERBIT BUKU BARU
Judul : "Hamba Yang Beruntung Di Dunia & Akhirat"
Oleh NUR ANWAR AMIN, Lc
Follow Us :
Mr. Lukman +62 815-8428-2565
IG : @adjienung @wafizscenter
Facebook : adjie nung
YouTube : Nur Anwar Amin
Harga : Rp. 125.000
Alamat Kantor :
Yayasan Wafizs Al-Amin Center
Jl. Gudang Bin Ali No. 73
Ujungharapan Rt. 05/06 Kel. Bahagia Kec. Babelan Kab. Bekasi Jawa Barat.


YUUUK  BERWAKAF Di Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi Sedang Pembebasan Tanah Wakaf Untuk Pembangunan Masjid dan Majlis Taklim, Yang Berminat SEGERA BERWAKAF, Catet Nomor Rekening Yayasan  7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin Center