Kenapa Harus diHAULkan (ALM) ENGKONG ENCIL BIN DAPET
haul kematian
Haul
itu : Malam Ahad, 24 Januari 2026
Pertama,
Menghapus Dosa dengan Beristighfar.
Makna
astagfirllah al'azhim
(1).
Meminta kepad Allah selama di dunia agar aib-aib kita itu ditutup sehingga
manusia tidak mengetahui dosa yang kita lakukan. Dosa-dosa yang kita punya cukuplah
Allah yang tahu, manusia tidak perlu tahu
karena betapa banyak orang-orang yang dahulunya dimuliakan, dipuja, dipuji belakangan
dihinakan setelah terbuka aibnya.
(2).
Meminta kepada Alla agar kelak pada hatri kiamat dosa-dosa yang kita lakukan
selama di dunia itu tidak dibalas oleh Allah swt alias bersih diampuni.
Kedua,
mengenang yg dihaulkan umurnya panjang
Ketiga,
Sedekah itu meringankan Ahli kubur (kisah Ibu susu Nabi Tsuwaibah al-Aslamiyah).
Diceritakan
bahwa suatu hari, tepatnya pada hari Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya Abu
Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran keponakannya, bernama Muhammad.
Abu Lahab pun sangat bergembira, seraya meneriakkan kata-kata pujian atas
kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Saking gembiranya, ia segera
mengundang tetangga, teman-temannya dan para kerabat dekatnya untuk merayakan
kelahiran keponakan barunya ini.
Di
hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan tersebut, Abu Lahab berkata
kepada budaknya Tsuwaibah, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas
kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka dengan ini
kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini.
Dengan
wasilah memerdekakan seorang budak, sebab bergembira atas kelahiran Rasulullah
saw, Abu Lahab diringankan siksanya setiap hari Senin. Diceritakan oleh Suhaili
bahwa Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkata
أَنَّ الْعَبَّاسَ قَالَ لَمَّا مَاتَ أَبُو
لَهَبٍ رَأَيْتُهُ فِي مَنَامِي بَعْدَ حَوْلٍ فِي شَرِّ حَالٍ فَقَالَ مَا
لَقِيتُ بَعْدَكُمْ رَاحَةً إِلَّا أَنَّ الْعَذَابَ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ
يَوْمِ اثْنَيْنِ قَالَ وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ بَشَّرَتْ أَبَا
لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ فَأَعْتَقَهَا
Artinya:
bahwa Ibnu Abbas berkata, ketika Abu Lahab mati, setahun kemudian aku
melihatnya dalam mimpi dalam kondisi yang buruk. Ia berkata: aku setelah
meninggalkan kalian tidak pernah merasakan jeda istirahat dari siksa, melainkan
azab diringankan setiap hari Senin. Abu Lahab menjelaskan: Itu karena saat Nabi
saw dilahirkan pada hari Senin, waktu ia diberi kabar oleh Tsuwaibah atas
kelahirannya, maka Abu Lahab membebaskannya (Tsuwaibah).
Juga
diceritakan oleh Al-Abbas, paman Nabi, bahwa beliau bermimpi melihat Abu Lahab.
Dia berkata, "Bagaimana keadaanmu?"
Dia
(Abu Lahab) menjawab, Ssaya seperti yang engkau lihat. Tersiksa. Tapi setiap
hari Senin Allah meringankan siksa-Nya kepadaku karena aku bergembira dengan
kelahiran Nabi Muhammad.”
Kemudian,
Urwah juga pernah menceritakan tentang diringankannya siksa Abu Lahab karena ia
pernah memerdekakan budak ketika Nabi Muhammad saw dilahirkan.
كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا، فَأَرْضَعَتِ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ
أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ، قَالَ لَهُ: مَاذَا لَقِيتَ؟ قَالَ
أَبُو لَهَبٍ: لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ
بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
Artinya:
Urwah berkata, (Tsuwaibah adalah bekas
budak Abu Lahab). Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun
menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia
pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang
memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya: “Apa yang telah kamu dapatkan?”
Abu Lahab menjawab,”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat
pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah. Wallahu’alam
Keempat,
Ladang Pahala Berbakti Kedua Orang Tua.
(1).
Al-Quran Menyebutkan Ibadah Tertinggi Kedua Setelah Kita Menyebah Allah swt.
Bergandengan
berbakti pada orang tua dengan mentauhidkan Allah swt dan larangan berbuat
syirik. Ini semua menunjukkan agungnya amalan tersebut.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ
شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS.
An Nisa’: 36),
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ
اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ
اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
“Dan
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau
kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau
membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra' Ayat 23).
Allah
swt menggunakan kata اِحْسٰنًاۗ sebagai bentuk wasiat kepada manusia terhadapa
anak-anaknya untuk berbakti. Memiliki orang tua itu dalam al-quran dan hadist
jangan difahami, jika sudah meninggal dunia berarti sudah tidak punya orang
tua, padahal tidak ada istilah mantan orang tua meskipun orang tua sudah wafat.
Makanya al-quran menggunakan kata اِحْسٰنًاۗ (berbuat baik) minimal mendoakannya, apalagi saat mereka
masih hidup belum bisa banyak berbakti, maka Allah beri peluang berbakti walau
orang tua itu sudah tiada.
Perintah
berbakti itu وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ langsung dari Allah swt, hal ini menujukan pesan bahwa
informasi yang disampaikan Allah itu sangat penting, karena sangat penting maka
konsekwensinya berpahala banyak, karena pahalanya banyak maka pengaruhnya
adalah bisa mempercepat terkabulnya doa dan bisa mempercepat terampuninya dosa.
Karena kata اِحْسٰنًاۗ itu memiliki 3 arti : baik, diniatkan sebagai ibadah
(berbakti kepada orang tua itu ibadah) dan mengandung pahala (hasanah) seperti
firman Allah,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ
أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa
melakukan satu amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat
amalnya.” (QS. Al An’am: 160).
Setelah
Allah menetapkan kita harus mengabdi dan menghamba kepadaNya lalu peringkat
kedua Allah meletakkan berbakti kepada kedua orng tua terutama lagi ibu,
disebutkan hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, berkata :
سَأَلْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ
الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » . قَالَ
ثُمَّ أَىُّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ » .قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ «
الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قَالَ حَدَّثَنِى بِهِنَّ وَلَوِ
اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِى
“Aku
bertanya pada Rasulullah saw, Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?’
Beliau saw menjawab, ‘Shalat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa
lagi?’ Beliau saw mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.’ Lalu
aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau saw mengatakan, ‘Berjihad di
jalan Allah.”
Lalu
Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Nabi saw memberitahukan hal-hal tadi kepadaku.
Seandainya aku bertanya lagi, pasti beliau akan menambahkan (jawabannya).” (HR.
Bukhari dan Muslim).
(2).
Cepat terqobul doa (kisah Uwais bin Amir al Qorni).
Kisah
Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia
punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa
kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa
ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah
disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.
Kisahnya
adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab radhiyallahu
‘anhu.
عَنْ أُسَيْرِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ
بْنُ الْخَطَّابِ إِذَا أَتَى عَلَيْهِ أَمْدَادُ أَهْلِ الْيَمَنِ سَأَلَهُمْ
أَفِيكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ حَتَّى أَتَى عَلَى أُوَيْسٍ فَقَالَ أَنْتَ
أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ نَعَمْ . قَالَ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ قَالَ
نَعَمْ.
قَالَ فَكَانَ بِكَ بَرَصٌ فَبَرَأْتَ مِنْهُ
إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ لَكَ وَالِدَةٌ قَالَ نَعَمْ
Dari
Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh
serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian
ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya,
“Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar
bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar
bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh
kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais
menjawab, “Iya.”
Umar
bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”
Uwais
menjawab, “Iya.”
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه
وسلم- يَقُولُ « يَأْتِى عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ
الْيَمَنِ مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ
إِلاَّ مَوْضِعَ دِرْهَمٍ لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى
اللَّهِ لأَبَرَّهُ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ ».
فَاسْتَغْفِرْ لِى. فَاسْتَغْفَرَ لَهُ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ
الْكُوفَةَ. قَالَ أَلاَ أَكْتُبُ لَكَ إِلَى عَامِلِهَا قَالَ أَكُونُ فِى غَبْرَاءِ
النَّاسِ أَحَبُّ إِلَىَّ
Umar
berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama
serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia
memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia
punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada
Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta
pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar
pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan
Umar dengan meminta ampunan pada Allah.
Umar
pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar
pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung
jawab di negeri Kufah supaya membantumu?
