Khutbah Jumat (Edisi 196) Tema : “BERDO’A LEBIH AFDHOL SENDIRI ATAU BERJAMAAH”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 196) Tema :
“BERDO’A LEBIH AFDHOL
SENDIRI ATAU BERJAMAAH”
Oleh : Nur Anwar
Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMI’ AL-MUHAJIRIN Perumahan Wahana Babelan
Kab. Bekasi Jumat, 06 Maret 2026 M/15 Ramadhan 1447 H.
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Diantara
keutamaan fasilitas bulan Ramadhan adalah diqobulnya segala do’a. Allah swt
telah menyatakan dalam berfirmanNya,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ
دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu
dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Tafsir Ibnu
Katsir menjelaskan ayat ini, bahwa ‘Allah swt begitu dekat dengan
hamba-hambaNya, Allah tidak akan mengecewakan siapapun yang berdoa kepadaNya dan
Allah akan selalu mengabulkan semua doa hamba-hambaNya. Ayat ini juga merupakan
seruan, anjuran dan arahan agar selalu banyak berdoa kepada Allah swt.’
Ibnu
Taimiyah berkata, “Terkabulnya do’a itu dikarenakan benarnya i’tiqod,
kesempurnaan ketaatan karena di akhir ayat disebutkan, ‘وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran’.” (Majmu’ah Al Fatawa, 14: 33-34).
Karenanya, mumpung
sedang bertemu dengan bulan Ramadhan, manfaatkan untuk selalu banyak berdoa,
Ramadhan itu selama 24 jam dan selama 1 bulan penuh waktu mustajab untuk
panjatkan doa terutama saat berpuasa, berbuka dan sahur. Sabda Nabi saw,
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ
لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya
do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah).
Riwayat lain
disebutkan do’a orang yang berpuasa adalah do’a yang mustajab.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ
وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Dari Abu
Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada 3 do’a yang tidak
tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia
berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Waktu sahur
adalah waktu mustajab untuk berdoa. Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ
يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ
يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita
tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka
akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang
meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Perlu
diketahui saat berdoa, lebih afdhol manakah berdoa sendiri atau berjamaah, menggunakan
suara pelan atau keras.? Berikut penjelasnnya :
Menurut
pandangan Ulama, berdoa itu, baik secara berjamaah ataupun sendiri itu memiliki
keutamaan (keafdhalian) masing-masing, tergantung konteks situasi dan
kondisinya. Tidak ada larangan mutlak, namun prinsipnya berfokus pada kekhusyu’an
dan kemaslahatan.
1. Doa
Sendiri Lebih Afdhol (Utama).
Berdoa yang
dilakukan sendiri, bisa lebih fokus terutama dengan merendahkan diri, penuh khusyu’,
menghayati makna, meresapi kebutuhan pribadinya kepada Allah, privasi,
spesifik, cocok dilakukan saat ingin berdoa secara panjang lebar, dan suara
yang lembut (tidak keras), lebih utama dan lebih dekat dengan keikhlasan. Allah
swt berfirman,
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةًۗ اِنَّهٗ لَا
يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ ٥٥
“Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-A'raf : 55).
2. Doa
Bersama Lebih Afdhol (Utama).
Keutamaanya
doa secara berjamaah (antar umat islam) sangat baik dan afdhal dilakukan untuk
membangun kebersamaan, pendidikan iman, dan syiar agama. Biasanya dilakukan
setelah shalat fardhu yang dipimpin oleh imam, atau dalam majelis dzikir dan doa
bersama. Melakukan dzikir dan doa bersama setelah shalat bukanlah perkara bid'ah
yang dilarang, melainkan amalan baik yang diperbolehkan.
Selain itu
sangat bermanfaat dan membantu orang yang tidak hafal doa, tidak bisa berdoa
yang ma’tsurot, dapat meningkatkan kekhusyu’an secara kolektif, dan mempererat
tali silaturahmi antar sesama jamaah bahkan menjadi sebab turunya rahmat Allah
swt. Senada dengan hadist Nabi saw,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ
الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ،
وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم
Dari Abi
Hurairah ra dan Abi Said al-Khudri ra bahwa keduanya telah menyaksikan Nabi saw
beliau bersabda : “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada
Allah Azza wa Jalla kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat
menyelimuti mereka, dan ketenangan hati turun kepada mereka, dan Allah menyebut
(memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya”. (HR. Muslim).
Dan membaca
dzikir dengan suara keras setelah sholat fardhu itu sudah dilakukan para
sahabat pada masa Rasulullah saw.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ
بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ، كَانَ عَلَى عَهْدِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه البخاري ومسلم
Dari Ibnu
Abbas ra ia berkata bahwa “Mengerasakan suara dalam berdzikir ketika
orang-orang selesai shalat maktubah itu sudah ada pada masa Nabi saw”. (HR.
Bukhari Muslim).
Disisi lain,
ada juga riwayat yang menganjurkan ketika berdzikir dan berdoa dengan suara
pelan. Sabda Nabi saw,
ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ
أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Ringankanlan
atas diri kalian (jangan mengerasakan suara secara berlebihan) karena
susunggunya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak
kepada yang ghaib, akan tetapi kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar
dan Maha Melihat.” (HR. Bukhari).
Ketika keduanya
(berdoa suara pelan dan suara keras) memiliki dalil yang kuat dan shohih, kita
bisa ambil pendapatnya Imam An-Nawawi yang menganjurkan kepada orang yang
berdzikir untuk menyesuaikan situasi dan kondisinya. Disebutkan dalam kkitab
Ruh al-Bayan.
وَقَدْ جَمَعَ
النَّوَوِيُّ بَيْنَ الْأَحَادِيثِ الوَارِدَةِ فِى اسْتِحَبَابِ الجَهْرِ
بِالذِّكْرِ وَالوَارِدَةِ فِى اسْتِحَبَابِ الإِسْرَارِ بِهِ بِأَنَّ
الْإِخْفَاءَ أَفْضَلُ حَيْثُ خَافَ الرِّيَاءَ أَوْ تَأَذَّى المُصَلُّونَ أَوْ
النَّائِمُونَ وَالْجَهْرُ أَفْضَلُ فِى غَيْرِ ذَلِكَ لِأَنَّ الْعَمَلَ فِيهِ
أَكْثَرُ وَلِأَنَ فَائِدَتَهُ تَتَعَدَّى إِلَى السَّامِعِينَ وَلِأَنَّهُ
يُوقِظُ قَلْبَ الذَّاكِرِ وَيَجْمَعُ هَمَّهُ إِلَى الفِكْرِ وَيَصْرِفُ سَمْعَهُ
إِلَيْهِ وَيَطْرِدُ النَّوْمَ وَيَزِيدَ فِى النَّشَاطِ (أبو الفداء إسماعيل حقي،
روح البيان، بيروت-دار الفكر، ج، 3، ص. 306
Imam
an-Nawawi memadukan antara hadits-hadits yang menganjurkan (mustahab)
mengeraskan suara dalam berdzikir dan hadits-hadits yang menganjurkan
memelankan suara dalam berdzikir : bahwa memelankan suara dalam berdzikir itu
lebih utama sekiranya dapat menutupi riya dan mengganggu orang yang shalat atau
orang yang sedang tidur. Sedangkan mengeraskan suara dalam berdzikir itu lebih
utama pada selain dua kondisi tersebut karena : pebuatan yang dilakukan lebih
banyak, dan faidah dari berdzikir dengan suara keras itu bisa memberikan
pengaruh yang mendalam kepada pendengarnya, bisa juga mengingatkan hati orang
yang berdzikir, memusatkan perhatiannya untuk melakukan perenungan terhadap
dzikir dan doa tersebut, mengarahkan pendenganrannya kepada dzikir terebut,
menghilangkan kantuk dan menambah semangatnya. (Abu al-Fida` Ismail Haqqi, Ruh
al-Bayan, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 3, h. 306).
Doa dilakukan
secara bersama-sama itu akan lebih dekat terkabulnya doa, imam berdoa lalu jamaah
mengaminkannya. Sabda Rasulullah saw,
عَنْ حَبِيْبِ بْنِ
مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ
قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ فَيَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ
اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني
Dari Habib
bin Maslamah al-Fihri ra, ia adalah seorang yang dikabulkan doanya, berkata :
Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Tidaklah berkumpul suatu kaum muslim
yang sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengamininya, kecuali Allah
mengabulkan doa mereka. (HR. al-Thabarani).
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Jika doa
bersama-sama (khusus antar umat islam) seperti doa setelah shalat dipimpin
imam) membuat jemaah lebih khusyuk dan tertib, maka itu afdhal. Namun, jika
dalam situasi tertentu doa sendiri membuat seseorang lebih konsentrasi dan
khusyuk, maka berdoa sendiri adalah yang lebih afdhal.
Jangan
pernah ragu, Ramadhan saatnya kita angkat kedua tangan, kita khusyukan hati,
berdoa apa saja yang baik-baik pasti Allah ijabah, asalkan penuh keyakinan
pasti Allah akan qobulkan semua hajat dan permintaan kita. Pesan Nabi saw dari
Jabir bin ‘Abdillah ra, Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى
شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا
فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
”Sesungguhnya
Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan
Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a, akan dikabulkan.” (HR. Al Bazaar).
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه
مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanaunuan

.jpeg)








