Khutbah Jumat (Edisi 211) Tema : “ERUPSI KRAKATAU JADI PENGINGAT GUNUNG DI HARI KIAMAT”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 211) Tema :
“ERUPSI KRAKATAU JADI PENGINGAT GUNUNG DI HARI KIAMAT”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) dan Yayasan Wafizs Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl' NURUSSALAM Pondok Kelapa Jakarta Timur. Jumat, 10 September 2026 M/28 R. Awal 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Setiap orang beriman pasti menginginkan negerinya berkah baik semua yang diturunkan dari langit ataupun dikeluarkan bumi yaitu dibukanya pintu-pintu kebaikan dari segala penjuru, berupa hujan, buah-buahan, binatang ternak, rezeki, rasa aman, keselamatan dari berbagai bencana dan kesejahteraan lahir dan batinnya. Tetapi ternyata banyak umat manusia yang mendustakan ayat-ayat Allah swt maka malapetaka yang didapatnya yaitu kekeringan merajalela, bencana tak kunjung selesai, keselamatan dan kenyamanan pun sulit dirasakan serta dicabutnya keberkahan. Firman Allah swt.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٩٦
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka karena apa yang selalu kerja merekakan." (QS. Al-A'raf : 96).
Termasuk sudah beberapa hari ini banyak pasang mata yang fokus terhadap abu vulkanik yang menyebabkan letusan gunung Krakatau, satu gunung baru yang mengeluarkan letusan api dari bawah tanah, sudah banyak orang-orang panik dan gelisah dibuatnya dan ini mengingatkan kita bagaimana kondisi gunung-gunung yang akan terjadi pada hari kiamat kelak.
Disebutkan dalam kitab mafatihul ghoib ada 6 tahapan yang disebutkan dalam al-quran bagaimana proses gunung-gunung yang tadinya berdiri kokoh besar lalu dihancurkan oleh Allah swt sehancur-hancurnya.
Pertama, Allah sebutkan QS. Surat Al-Haqqah ayat 14.
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan ١٤
“dan bumi serta gunung-gunung diangkat lalu dibenturkan dengan sekali benturan,” (QS. Al-Haqqah : 14).
Bagi Allah swt mengangkat bumi beserta gunung-gunung yang kokoh dengan sangat mudah pada hari terhenti. Bumi dan gunung-gunung tersebut kemudian diadukan atau dibenturkan dalam satu kali benturan yang sangat keras. Akibat benturan tersebut, bumi dan gunung-gumung itu hancur lebur menjadi rata, tanpa ada lagi lembah, perbukitan ataupun tempat tinggi dan rendah dan peristiwa ini terjadi pada tiupan sangkakala yang pertama, yang menandai huru hara berhenti sebelum manusia dibangkitkan dan dihisab.
Kedua, Allah sebutkan QS. Al-Qori'ah ayat 05.
وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ ٥
“dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan.” (QS. Al-Qari'ah : 5).
Allah swt menggambarkan tentang kedahsyatan hari terhenti, dimana pada saat itu tidak ada kekuatan dunia yang bertahan, gunung yang tadinya kokoh, keras, dan berat, diartikan menjadi sangat lemah, hancur berkeping-keping, lalu beterbangan di udara bagaikan bulu atau kapas warna-warni melayang-layang diudara.
Pada hari berhenti itu, bukan hanya gunung-gunung beterbangan, manusia pun semuanya seperti laron berhamburan kesana kemari tanpa arah, karena
kekacauan, ketakutan yang mencekam dan mereka kebingungan terhadap apa yang ada dihadapan mereka,
يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ ٤
“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.” (QS. Al-Qari'ah : 4).
Mata mereka menunduk karena merasa hina, malu, dan takut menghadapi balasan atas perbuatan mereka di dunia, lalu mereka bangkit dari kuburan masing-masing seperti imajinasi belalang yang beterbangan ke segala arah.
يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ ٧
“Mereka keluar (berhamburan) dari kubur seperti belalang yang beterbangan.” (QS. Al-Qamar : 7).
Lalu Allah menggambarkan hasil dari perbuatan orang-orang yang beramal, muliakah atau hinakah pada saat itu sangat tergantung sesuai dengan amal mereka masing-masing.
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُةٌ (٦) فَهُوَ فِي عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ (٧)
"Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan (surga).” (QS. Al-Qari'ah : 6-7).
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (٨) فَأُمُّهُ هَاووِيَةٌ (٩) وَمَا أَدْرِيكَ مَا هِيَةٌ (١٠) نَارُ حَامِيَةٌ (١١)
"Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah. tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu? (la adalah) api yang sangat panas." (QS. Al-Qari'ah : 8-11).
Ketiga, Allah sebutkan QS. Surat Al-Waqi'ah ayat 06.
فَكَانَتْ هَبَاۤءً ٦
“Jadilah dia debu yang lebih baik.” (QS. Al-Waqi'ah : 6).
Ketika bumi digoncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, hancur berkeping-keping menjadi debu halus yang beterbangan ke segala arah karena tiupan angin yang sangat kencang. Dan ayat ini menggambarkan betapa lemahnya ciptaan bumi dan benda-benda raksasa di hadapan kebesaran Allah swt saat hari kiamat tiba, di mana segala yang megah di dunia ini musnah dan luluh lantah tak ternilai, tak ada kekuatan, tak ada daya dan tak ada kekuasaan kacuali hanya kekuatan Allah swt yang Mahasegalanya.
Keempat, Allah sebutkan QS. Thoha ayat 105.
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًاۙ ١٠٥
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang gunung-gunung, lalu berkata, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya,” (QS. Thaha : 105).
Orang-orang kafir Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad saw mengenai nasib gunung-gunung yang kokoh pada hari Kiamat karena mereka meremehkannya. Lalu Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menjawab bahwa gunung-gunung tersebut akan dihancurkan, dileburkan, dan dijadikan berkeping-keping hingga menjadi debu yang beterbangan, setelah hancur, area bekas gunung tersebut akan diubah oleh Allah menjadi dataran yang rata, licin, tanpa ada lembah maupun bukit.
Kelima, Allah sebutkan QS. An-Naml ayat 88.
صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ ٨٨
"Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti mengelilingi awan. (Demikianlah) penciptaan Allah menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Naml : 88).
وَّحَشَرْنٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ اَحَدًاۚ ٤٧
"(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami melakukan perjalanan gunung-gunung (untuk menghancurkan) dan kalian melihat bumi itu rata. Kami mengumpulkan mereka (seluruh manusia) dan tidak Kami meninggalkan satu kata pun dari mereka." (QS. Al-Kahfi : 47).
Sebagian besar Mufassir (Ahli Tafsir) berpendapat bahwa ayat ini Merujuk pada peristiwa hari kiamat atau hari kebangkitan dimana gunung-gunung yang dulunya tampak kokoh dan diam akan terangkat dan berjalan cepat bagaikan awan yang ditiup angin sebelum akhirnya hancur.
Sebagian besar ulama dan ilmuwan besar memahami ayat ini dengan pergerakan bumi dan lempeng tektonik di dunia saat ini. Manusia membayangkan bumi dan gunung diam, padahal bumi berotasi serta bergerak mengelilingi porosnya bersamaan dengan pergerakan alam semesta.
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa semua itu adalah ciptaan Allah yang Maha Sempurna. Allah Maha Teliti (Khabîr) atas segala perbuatan manusia untuk memberikan balasan yang setimpal.
Keenam, Allah sebutkan QS. An-Naba' ayat 20.
Perlindungan Hutang ٢٠
“Gunung-gunung pun dijalankan. Maka, ia menjadi (seperti) fatamorgana.” (QS. An-Naba' : 20).
Gunung dijalankan (Suyyirat) , Gunung-gunung yang tadinya kokoh dan berfungsi sebagai pasak bumi akan dicabut dari tempatnya, diguncang, dan diterbangkan oleh Allah swt pada hari terhenti. Dan menjadi fatamorgana (Saroba) , dimana dari kejauhan, bentuk gunung-gunung tersebut tampak ada dan seolah-olah masih berdiri. Namun, saat didekati atau disaksikan kenyataan, wujudnya hancur lebur menjadi debu, pasir, atau bulu yang berhamburan dan sama sekali tidak memiliki hakikat kekokohan lagi.
Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian penjelasan tentang huru-hara Hari Kiamat (mulai dari peniupan sangkakala hingga terbukanya langit) sebagai bentuk peringatan nyata bagi manusia akan datangnya hari pembalasan.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Jangan pernah lelah terus berdoa kepada Allah agar terhindar dari dahsyatnya hari kiamat, selamat dunia akhirat, terutama doa ini dibaca Nabi saw saat menjelang tidur.
اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ
“Ya Allah, lindungilah aku dari tenggelam-Mu pada hari Engkau bangkit hamba-hamba-Mu (yaitu hari berhenti).” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ Layanan Pelanggan dan
“Ya Allah, baguskanlah setiap akhir urusan kami, dan selamatkanlah dari kebinasaan di dunia dan dari siksa akhirat.” (HR.Ahmad).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. حِيْم
uanuan







