Khutbah IDUL FITRI 2026/1447 (edisi 198) Tema : “IDUL FITRI : MEMAAFKAN LEBIH MULIA DAN LEBIH BESAR PAHALANYA”
khutbah-idulfitri
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah IDUL FITRI 2026/1447 (edisi 198) Tema :
“IDUL FITRI : MEMAAFKAN LEBIH MULIA DAN LEBIH BESAR
PAHALANYA”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan Asrama
Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin
Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid BESAR NURUL HUDA Kp. Gabus Pabrik, Desa
Sriamur, Tambun Utara, Bekasi. Sabtu, 21 Maret 2026 M/01 Syawwal 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله. اَللهُ
أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ
(×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ
وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ
الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ
الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ
إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا
اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله
تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dengan
terbenamnya matahari dipenghujung Ramadhan maka sempurnalah kita menjalankan
ibadah puasa sebulan penuh disertai melakukan semua amal sholeh yang pahalanya
disisi Allah saw amatlah sangat besar dan itulah bekal dalam perjalanan yang
tersisa di dunia ini dan bekal perjalanan yang abadi di akhirat yang tidak ada
kesudahannya. Itulah yang membuat kita gembira.
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ
فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨
“Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka
bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58).
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله.
Segala puji
bagi Allah swt yang telah menyejukkan hati kita diatas aqidah yang benar,
segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita banyak nikmat sehingga
dengan nikmat tersebut kita dapat melakukan amal-amal sholeh, segala puji bagi
Allah swt yang telah menyampaikan usia kita sampai di akhir ujung Ramadhan,
dimana banyak sekali saudara-saudara kita yang ingin bertemu dengan bulan
Ramdhan tapi Allah swt mentakdirnya ia wafat sebelum datang bulan Ramadhan,
betapa banyak orang yang sudah berjumpa Ramadhan tetapi Allah swt memberikan ia
sakit sehingga ia tidak dapat berpuasa pada bulan Ramadhan.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ramadhan
telah berlalu, rasa lelah yang dirasakan orang-orang qiyamullail sudah hilang
dan rasa letih yang dirasakan orang-orang yang rajin beribadah pun sudah
berlalu, yang tersisa adalah pahala yang kelak akan mereka dapatkan disisi
Allah swt,
Di hari
raya yang fitri ini ada 4 point yang sangat penting untuk kita jadikan
pembelajaran agar kesucian, kemenangan dan pahala besar yang selalu melekat
dalam sanubari kita sehingga Ramadhan lalu berhasil mempatri diri kita menjadi
orang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah swt. Diantaranya adalah :
Pertama,
Pahala Puasa dan Sholat.
Berbahagialah
bagi orang-orang yang puasa selama bulan Ramadhan, karena Rasulullah swt
bersabda, dari Abu Hurairah,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah
maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”.
(HR. Bukhari dan Muslim). Dosa orang tersebut habis dihapus oleh Allah swt.
Namun celaka
dan dosa besar bagi orang-orang yang telah berani meninggalkan puasa, sengaja
tidak berpuasa di bulan Ramadhan, pelakunya wajib segera bertaubat nasuha, jika
tidak segera bertaubat, ancaman berat baginya.
عَنْ أَبي أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ،
ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ
مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟
قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
“Dari Abu
Umamah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Pada saat aku
tidur, aku bermimpi didatangi dua orang malaikat membawa pundakku. Kemudian
mereka membawaku, saat itu aku mendapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya,
dari mulutnya yang pecah keluar darah. Aku bertanya : ‘Siapa mereka?’ Ia
menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum diperbolehkan
waktunya berbuka puasa’.” (HR. An-Nasa’i).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ
رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ لَهُ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ الدَّهْرَ كُلَّهُ
Dari Abu
Hurairah ra, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak berpuasa satu hari
di bulan Ramadhan tanpa (udzur syar’i) keringanan yang Allâh berikan kepadanya,
maka tidak akan diterima sekalipun ia berpuasa selama satu tahun semuanya.”
(HR. Ahmad).
Berbahagialah
bagi orang-orang yang telah melakukan qiyam Ramadhan (sholat sunah taraweh) dan
melakukan sholat lima waktunya dengan sempurna selama bulan Ramadhan karena
Rasulullah swt bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang
siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala,
maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari Muslim). Dosa orang tersebut habis dihapus
oleh Allah swt.
Namun celaka
dan dosa besar bagi orang-orang yang telah berani meninggalkan sholat terutama
sholat 5 waktu dengan sengaja, berarti ia berani meninggalkan Allah swt, kalau
sudah berani meninggalkan Allah, jangan pernah berharap akan bisa masuk dalam
surgaNya, jangan pernah berharap dapat jaminan dari Allah bahkan orang tersebut
akan dijerumuskan masuk dalam neraka saqor yaitu neraka yang sangat panas dan
menghanguskan. Allah swt berfirman,
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ
الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ
الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (46) حَتَّى أَتَانَا
الْيَقِينُ (47)
“Apakah
yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu
tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula)
memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama
dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari
pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Mudattsir: 42-47).
Orang-orang
yang sengaja berani meningglkan sholat, pelakunya dianggap tidak beragama
islam, Umar bin al-Khattab mengatakan,
إِنَّ أَهَمَّ أُمُوْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ فَمَنْ
حَفِظَهَا حَفِظَ دِيْنَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَع
وَلاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
“Menurutku,
perkara yang paling penting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa yang menjaga
shalatnya, maka ia berarti menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan
shalat, berarti dalam hal lainnya ia lebih menyia-nyiakan lagi. Tidak ada
bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. ” (Ash Shalah, hal. 12).
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Kedua, Dua Kebahagiaan
Bagi Orang yang Berpuasa.
Dari Abu
Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ
وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Bagi orang
yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: (1) kebahagiaan ketika berbuka,
dan (2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim).
(فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ) Kegembiraan fisik
dan spiritual karena hari ini tidak berpuasa dapat menikmati makanan dan minuman
setelah menahan lapar, serta rasa syukur karena berhasil menyelesaikan ibadah
puasa satu bulan penuh.
(وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ )
Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya dan itu
kegembiraan tertinggi di akhirat kelak
adalah ketika mendapatkan pahala berlipat, ridha Allah, dan balasan surga atas
puasa yang telah dilakukannya.
Maka hari
ini adalah hari bergembira bagi kaum muslimin dan merupakan hak bagi seorang
muslim untuk bergembira pada hari ini, karenanya, bersenang-senanglah tetapi
ingat, kesenangan itu ada batasnya tidak boleh melampoi syariat yang sudah
ditetapkan Allah swt.
Hari raya
umat islam berbeda dengan hari raya umat lain, hari raya umat islam itu dibuka
dengan alunan gema takbir kepada Allah swt, sholat, sujud dan ruku karena itu
merupakan keagungan agam islam.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ
مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ
أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
Anas
berkata, Rasulullah saw ketika tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki
dua hari khusus untuk permainan, maka beliau bersabda: "Apakah maksud
dari dua hari ini?" mereka menjawab: "Kami biasa mengadakan permainan
pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliyyah." Maka Rasulullah saw
bersabda : "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih
baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari raya idul Adlha dan hari raya Idul
Fithri." (HR. Sunan Abu Daud).
Di hari
bahagia ini silahkan berbagi kebahagiaan bersama keluarga, saling memberi
hadiah, buat aneka kue dan makanan dan berkunjung antar sanak keluarga saudara
yang kita inginkan karena sesungguhnya hari ini adalah hari kebahagiaan baig
seluruh kaum muslimin, dan Allah sempurnakan kebahagiaan tersebut dengan
diharamkan berpuasa pada hari ini.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ
الأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ
Dari Abu
Hurairah ra. “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang berpuasa pada dua hari
raya yaitu Idul Fithri dan Idul ‘Adha”. (HR. Muslim).
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Ketiga,
Saling Memaafkan (Menghapus Kesalahan).
Pada hari
ini ada sebagian orang yang kebahagiaannya tidak sempurna disebabkan karena
tidak saling tegur sapa kepada saudaranya, sedang bermusuhan dengan saudaranya
bahkan terhadap orang tuanya sendiri pun marah menahun. Maka untuk orang
tersebut ada pesan khusus dari Rasulullah saw.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ
رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ
بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ
Dari Ibnu
Abbas, dari Rasulullah saw bersabda: "Tiga golongan yang shalatnya
tidak akan di angkat (diterima) meski satu jengkal dari kepalanya : (1). Seorang
laki-laki yang mengimami suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya, (2). Seorang
istri yang menghabiskan malamnya sementara suaminya murka kepadanya, dan (3). Dua
bersaudara yang saling bermusuhan (memutuskan tali persaudaraan)."
(HR. Ibnu Majah).
Maka orang
tersebut tidak akan mendapatkan ampunan Allah swt, Nabi saw bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ
وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا،
إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ:
أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا،
أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
"Pintu-pintu
Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka Allah akan mengampuni setiap hamba
yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang antara
dia dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan : 'Tundalah (ampunan)
bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai, tundalah (ampunan) bagi kedua
orang ini sampai mereka berdamai, tundalah (ampunan) bagi kedua orang ini
sampai mereka berdamai'." (HR.
Muslim).
Jika kita
ingin mendapatkan ampunan Allah swt seluas luasnya maka di hari fitri ini
kesempatan emas untuk saling memaafkan, kesempatan untuk saling berkunjung dan
meminta maaf kepada saudara-saudara kita. Jika sebaliknya, tidak mau minta
maaf, tidak saling meridhoi bahkan nyaris memutuskan tali salaturrahim, maka
kata Nabi saw “berdosa bagi orang yang memutuskan tali silaturahim dan tidak
akan merasakan indahnya surga.
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ
مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ رَحْمٍ. رواه البخاري ، ومسلم ، وأبو
داود ، الترمذي
Dari Jubair
bin Muth’im ra. dari Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak masuk surga pemutus
silaturrahim.” (Bukhari Muslim).
إِنَّ الرَّحْمَةَ لَا تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ
قَاطِعُ رَحِمٍ
“Rahmat
Allah tidak akan turun pada sekelompok kaum yang memutuskan silaturrahim”. Bahkan lebih seram lagi ancaman Nabi saw,
قَاطِعُ الرَّحِمِ مَلْعُونٌ وَلَوْ مَاتَ فِي جَوْفِ
الكَعْبَةِ
“orang yng
memutuskan silaturrahim dengan kerabatnya dilaknat, dimurkai Allah, diusir dari
rahmat Allah walaupun matinya ditengah-tengah ka’bah” (HR. Imam Al Qudo’I).
Siapa yang
meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan orang lain, maka Allah pun akan
menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda,
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
“Tidaklah
Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin
memuliakan dirinya.” (HR. Muslim).
Maka tidak
ada alasan bagi kita untuk memboikot atau memutuskan saudara kita, jangan
pernah malu meski kita lebih tua, buang itu jauh-jauh, ingat pesan Nabi saw,
siapa yang memafkan maka Allah akan muliakan dia, minta maaf itu mulia tapi
memaafkan itu jauh lebih mulia dan lebih besar pahalanya.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Orang-orang
yang mampu menjalin tali silaturrahim itu merupakan ciri-ciri penduduk surga,
dijelaskan dalam al-quran,
وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ
يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِۗ ٢١
“Orang-orang
yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti
silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra'd : 21).
Diantara
ciri-ciri penduduk surga adalah mereka yang menyambung tali silaturrahmi,
diujung ayat ini allah tegaskan
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ
اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ
عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ ٢٣
“(Yaitu)
surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur,
pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat
masuk ke tempat mereka dari semua pintu.” (QS
Ar-Ra'd : 23).
Maka
bagaimana mungkin kita akan masuk bersama ibu, kaka, adik dan suadara-saudara
kita kedalam surga sementara di dunia kita tidak berbaikan dan tidak akur,
bagaimana mungkin kita mendapatkan pahala surga yang dijanjikan Allah swt.
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى
الدَّارِۗ ٢٤
“(Malaikat
berkata,) “Salāmun‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena
kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga).” (QS. Ar-Ra'd : 24).
Seakan-akan
di ayat ini Allah mengatakan bahwa orang yang menyambung tali silaturrahim
butuh kesabaran, dan ini benar, disbutkan dalam sebuah hadist, ada seorang
laki-laki datang kepada Nabi saw dan dia berkata
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَنَّ
رَجُلًا قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ
وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ
وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقَالَ : «لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا
تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا
دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ». (رواه مسلم)
Dari Abu
Hurairah ra. bahwasanya seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku memiliki kaum kerabat, aku menyambung hubungan dengan mereka
namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka,
namun mereka berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun (lemah lembut) kepada
mereka, namun mereka bersikap bodoh (kasar) kepadaku." Maka Nabi saw
bersabda: "Jika engkau benar seperti apa yang engkau katakan, maka
seolah-olah engkau menyuapi mereka abu panas (yakni mereka mendapat dosa
besar), dan pertolongan Allah akan senantiasa bersamamu melawan mereka selama
engkau tetap melakukan hal tersebut (berbuat baik)." (HR. Muslim).
Jika kita
benar-benar ingin mendapatkan keutamaan ini, jika kita ingin ditolong Allah swt
maka sambunglah tali silaturrahim diantara kita. Janji Rasulullah saw tuk orang
yang senang dengan tali silaturrahim,
"مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ
فِي أَثَرِهِ"
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan
rezekinya dan dipanjangkan umurnya (ditangguhkan ajalnya), maka hendaklah ia
menyambung silaturahim". (HR. Bukhari & Muslim).
Cari rezeki
dengan silaturrahim, panjangkan usia dengan silaturrahim maka hari ini adalah
hari yang sangat tepat untuk menyambung tali yang dahulunya pernah putus lama
hanya gara-gara urusan dunia, sementara Allah katakan itu,
قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ
لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا ٧٧
Katakanlah,
“Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik
bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa' : 77).
Dunia itu
hanya perhiasan, hanya kenikmatan sesaat, sangat sedikit, dunia ini akan kita
tinggalkan, tidak mungkin kita akan hidup lama di dunia ini, kita akan hidup di
akhirat yang abadi dalam surgaNya Allah swt.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Keempat,
Nasehat Nabi saw Khusus untuk Kaum Wanita.
Pada hari
ini Rasulullah saw mengkhususkan nasehat kepada kaum perempuan, betapa Nabi saw
menunjukkan sangat sayang kepada kaum perempuan sampai-sampai mengkhususkan
nasehat ini. Tatkala Rasulullah saw selesai khutbah id, beliau mendatangi para
wanita sembari memberikan nasihat,
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي
رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ: وَبِمَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ العَشِيرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ
نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ، أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ، مِنْ
إِحْدَاكُنَّ، يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ
“Wahai kaum
wanita, bersedekahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak
akan menjadi penghuni neraka”. Mereka bertanya: ‘Mengapa begitu, wahai
Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan mengingkari
pemberian (kebaikan suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal
dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita’.” (HR. Bukhari).
Karena itu
bagi para perempuan :
(1). Hari
ini banyaklah bersedekah untuk menghapus dosa-dosa dan menjauhkan dari siksa
api neraka.
(2).
Bahagiakanlah hati suami setiap hari terkhusus di hari ini, banyak berbuat
baiklah kepada suami sebagimana dahulu ketika gadis berbakti kepada orang tua
mendapatkan pahala yang sangat besar begitu juga berbakti kepada suami akan memperoleh pahala besar pula, pintu
surga pun terbuka lebar-lebar untuknya. Rasulullah saw bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا
وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ
أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika
seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di
bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina)
dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki
sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau
suka.” (HR. Ibnu Hibban, no. 4163 dan Ath-Thabrani
dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 4715).
Betapa
besarnya hak suami dalam rumah tangga, sehingga jika sujud kepada makhluk
dibolehkan, maka suamilah yang paling berhak mendapatkannya. Nabi saw bersabda,
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ
لأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لأَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللَّهُ
لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ
“Seandainya
aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan
memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan
begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Mari
niatkan mulai saat ini untuk menurunkan ego kita, membelenggu hawa nafsu kita
untuk minta maaf karena orang yang meminta maaf itu jauh lebih mulia daripada
orang yang didatangin, jangan malu meminta maaf, mulailah dengan komunikasi wa,
telepon untuk minta maaf, jangan malu karena engkau lebih mulia, engkau mampu
mengendalikan hawa nafsumu dan egomu.
Bahkan
na’udzubillah kalau sampai orang itu tidak memberi maaf, Imam Syafi’i
mengatakan “Kalau udah ada orang dimintain maaf namun tidak mau memberi maaf
maka orang itu hakekatnya adalah setan yang dilaknat Allah swt” karena kotor
dan sombong hatinya. Sempurnakan nilai Ramadhan kita kali ini
agar kita termasuk orang-orang yang minal faizin wal maqbulin.
”Selamat
Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M Mohon Maaf Lahir Batin.”
مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHUTBAH KEDUA
الله أكبر – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ
–الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا
وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله وَحْدَهُ صَدَقَ
وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ
إِلَهَ إِلاّاَلله وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ
المُناَفِقُوْنَ. اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ
وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ
الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ
السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى مخبرا
وامرا إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ
يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ
أَجْمَعِيْنَ. وأرض اللهم على أربعة الخلفاء الراشدين سيدنا ابي بكر وعمر وعثمان
وعلي وعلى بقية الصحابة التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا
وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ
وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ
سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ
مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ
أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ
مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً
تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ.
يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ.
اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ
وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ
ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ
المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ
وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ
اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ
uanuan

.jpeg)








